Sultan Jambi : “Jangan Korbankan Negeri Demi Kepentingan Segelintir Orang”

Sultan Jambi


Jawapes Jambi — Rentetan bencana yang menghantam Sumatera dalam beberapa hari terakhir mendapatkan perhatian mendalam dari Sultan Jambi, Yang Mulia Sultan Sayyid Fuad Baraqbah. "Banjir bandang, tanah longsor, dan gempa bumi yang terjadi berulang bukan hanya peristiwa alam, tetapi akibat nyata dari kerusakan lingkungan yang dibiarkan berlangsung terlalu lama," tegas Sultan Fuad, Sabtu (29/11/2025).

Pada 23–28 November 2025, Sumatera Barat mengalami banjir bandang dan longsor di Pesisir Selatan, Tanah Datar, dan sejumlah wilayah lain. Ribuan warga terpaksa mengungsi, akses jalan terputus, dan korban jiwa dilaporkan. Di Sumatera Utara, banjir dan longsor melanda Dairi serta Humbang Hasundutan, merusak fasilitas publik dan menghentikan aktivitas masyarakat. 

Aceh turut terdampak banjir dan diguncang gempa pada 27 November yang merusak bangunan, memutus jaringan listrik, dan mengganggu komunikasi.

BMKG menyebut cuaca ekstrem sebagai pemicu utama, namun Sultan Fuad menilai penyebab inti berasal dari rusaknya ekosistem. "Pembalakan liar, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, dan lemahnya pengawasan lingkungan telah memperbesar dampak bencana," ungkap Sultan Fuad.

Iapun jelaskan hujan deras memang pemicu, tetapi kerusakan besar ini adalah buah dari tangan-tangan manusia.

“Ketika hutan ditebang tanpa kendali dan lingkungan dikelola demi keuntungan segelintir orang, maka rakyatlah yang menanggung banjir, longsor, dan derita tanpa henti,” jelas Sultan Fuad.

Sultan Fuad menambahkan pernyataan baru yang menegaskan posisi moral Kesultanan Jambi terhadap isu lingkungan.

“Saya tidak ingin negeri ini terus menjerit karena keserakahan manusia. Alam bukan diwariskan oleh leluhur untuk dirusak, tetapi untuk dijaga agar anak cucu kita tidak hidup dalam ancaman bencana,” ujarnya. 

Ia juga mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan adalah bentuk kezaliman yang akan kembali menyakiti pelakunya. 

“Siapa pun yang merusak bumi akan menuai akibatnya. Ini hukum Allah, hukum alam, dan hukum kemanusiaan," jelasnya.

Beliau juga memperingatkan mengenai praktik ekonomi yang merusak. “Kepentingan ekonomi tidak boleh menginjak martabat rakyat. Jika pembangunan dilakukan dengan merusak hutan dan sumber air, maka itu bukan pembangunan — itu pemusnahan masa depan,” ujar Sultan.

Sultan Fuad mendesak pemerintah pusat untuk bertindak cepat dan tegas. 

“Pemerintah pusat harus turun tangan dengan sungguh-sungguh. Pengawasan tidak boleh hanya formalitas. Regulasi harus ditegakkan konsisten, dan pelaku perusakan—baik individu maupun korporasi—harus dimintai pertanggungjawaban tanpa kompromi,” ungkapnya. 

Ia mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kelestarian lingkungan.

“Alam adalah titipan yang harus dijaga, bukan komoditas yang dieksploitasi tanpa batas,” tambahnya.

Sultan turut menyerukan introspeksi kepada seluruh lapisan masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha.

“Musibah ini bukan sekadar berita. Ini adalah cermin bagi kita semua. Bila kerusakan dibiarkan dan kezaliman terhadap alam terus terjadi, maka bencana akan datang bergiliran,” katanya. 

Namun jika kita memperbaiki diri, menjaga lingkungan, dan kembali kepada aturan Allah, keberkahan langit dan bumi akan kembali turun kepada negeri ini.

Ia menutup pesannya dengan doa agar masyarakat diberikan keselamatan dan kekuatan dalam menghadapi ujian ini, serta agar para pemimpin diberi kebijaksanaan dalam mengambil keputusan yang melindungi rakyat dan menjaga kelestarian negeri. (Red)

Baca Juga

View

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama

Rizal Diansyah, ST

Pimpred Media Jawapes. WA: 0818306669

Countact Pengaduan