Jawapes Jakarta – Gelar Djagat Anyar Mahardika, Jogorogo, Kerahayon menggelar audiensi ke Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendesa PDTT) terkait pengembangan wisata edukasi budaya berbasis desa. Audiensi tersebut diterima langsung oleh Direktur Perencanaan Pembangunan Desa dan Perdesaan Direktorat Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan (Ditjen PDP).
Audiensi berlangsung di Kantor Pusat Kemendesa PDTT, Jalan TMP Kalibata No.17, Rawajati, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (23/1/2026).
Hasil audiensi menyepakati penyelenggaraan Parade Budaya Djagat Anyar sebagai langkah awal dukungan Kemendesa PDTT terhadap program wisata edukasi budaya. Kegiatan ini akan digelar di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Jalan Soekarno Hatta No.7, Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, dengan dukungan penuh Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Malang Raya.
Direktur Perencanaan Pembangunan Desa dan Perdesaan Ditjen PDP Kemendesa PDTT, Suherman, S.IP., M.Si., menegaskan parade budaya menjadi pintu awal penguatan identitas desa melalui pendekatan pembangunan berbasis kearifan lokal.
“Melalui pendekatan edukasi dan pariwisata, budaya desa dapat berdampak langsung pada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” tegas Suherman.
M. Samsul, Direktur Utama PT Trofi Fajar Timur Sakti sekaligus Pembina dan Penanggung Jawab Yayasan Djagat Surya Karahayon, menegaskan bahwa rangkaian kegiatan tidak berhenti pada parade budaya semata.
“Selain parade budaya, juga akan digelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk sebagai wujud pelestarian budaya adiluhung sekaligus media edukasi nilai-nilai luhur bangsa,” ujar Samsul.
Winda Ellsa Pertiwi, Pembina Yayasan Djagat Surya Karahayon dan Djagat Tresno Sejati, menyampaikan bahwa wisata edukasi budaya harus menjadi ruang pembelajaran yang inklusif.
“Budaya harus diwariskan secara hidup melalui proses belajar lintas generasi agar jati diri bangsa tetap kuat,” katanya.
Gus Java Panji Asmoro, Pembina Yayasan Djagat Surya Karahayon, menilai kegiatan ini sebagai langkah strategis dalam memperkuat persatuan nasional.
“Keberagaman budaya adalah kekuatan bangsa yang harus dirawat bersama sebagai perekat persatuan,” ujarnya.
Ketua Yayasan Djagat Surya Karahayon, Bunda Rini, menegaskan parade budaya dan pagelaran wayang kulit menjadi simbol kebersamaan masyarakat.
“Kegiatan ini adalah ikhtiar menjaga adat, tradisi, dan kebersamaan di tengah keberagaman,” tuturnya.
Di tempat terpisah, Ketua Yayasan Jawapes Indonesia Emas, Rizal Diansyah Soesanto, ST, CPLA, menyatakan bahwa wisata edukasi budaya memiliki dampak strategis jangka panjang.
“Melalui wisata edukasi budaya akan tercipta kawasan mandiri yang kuat secara ekonomi, sosial, dan budaya, serta berkelanjutan,” tegas Rizal.
Dukungan juga disampaikan Ketua Bumi Laras Manunggal, Dr. Suwito, SH, MH, yang menilai program tersebut sejalan dengan arah pembangunan nasional.
“Pengembangan budaya berbasis desa adalah fondasi penting dalam pemberdayaan masyarakat dan pembangunan daerah yang berkelanjutan,” katanya. (Red)
View


Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments