Jawapes, SIDOARJO – Film drama komedi berbalut horor berjudul Piye To Kih! menghadirkan konsep cerita yang tidak biasa. Mengangkat premis asmara beda alam dan beda agama, film produksi terbaru ini tidak sekadar menawarkan hiburan, tetapi juga menyisipkan pesan moral tentang perjuangan, keikhlasan, dan pentingnya memantaskan diri.
Sutradara film Piye To Kih! Ito Mavin menjelaskan, pemilihan premis yang unik tersebut merupakan strategi untuk menarik perhatian penonton sekaligus menjadi pintu masuk dalam menyampaikan pesan utama cerita.
Menurutnya, ada sejumlah pesan kehidupan yang ingin disampaikan melalui film tersebut. Namun, pesan paling mendasar adalah bagaimana seseorang seharusnya berusaha memperbaiki dan memantaskan dirinya untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
"Di kehidupan sekarang, banyak orang berusaha menjadi orang lain untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Padahal, ketika kita menginginkan sesuatu, hal yang harus dilakukan adalah membuat diri kita pantas untuk mendapatkannya," ungkap Ito Mavin usai peluncuran tayang perdana di Platinum Cineplex Sun City, Selasa (3/11/2026).
Ia menjelaskan, cerita berpusat pada karakter Mukidi yang ingin membuktikan bahwa dirinya layak untuk menikah. Dalam perjalanannya, Mukidi berusaha menjadi sosok berbeda, bahkan sampai membeli sebuah rumah tua.
Namun, keputusan tersebut justru membawanya pada pengalaman tidak terduga. Di rumah itu, Mukidi bertemu dengan sosok arwah perempuan cantik yang telah menghuni sebuah boneka selama 20 tahun.
Pertemuan tersebut kemudian mengubah perjalanan hidup Mukidi dan membawanya pada berbagai persoalan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Judul Piye To Kih! sendiri diambil dari ungkapan bahasa Jawa yang kurang lebih bermakna "bagaimana sih". Kalimat tersebut menggambarkan kerumitan situasi ketika karakter utama dihadapkan pada berbagai pilihan dan persoalan yang saling bertentangan.
Ide cerita film ini, lanjut sutradara, mulai muncul pada 2024. Berawal dari kegelisahan mengenai fenomena seseorang yang berusaha menjadi orang lain demi memperoleh pengakuan atau mencapai keinginannya, gagasan tersebut kemudian dikembangkan menjadi cerita dengan pendekatan komedi dan horor.
Kolaborasi Kreator Lokal dan Pemain Nasional
Hal menarik lainnya adalah keterlibatan kreator digital dari Woko Channel yang dipadukan dengan sejumlah pemain nasional.
Sutradara menilai perkembangan internet telah membuka kesempatan yang lebih luas bagi siapa pun untuk menunjukkan kemampuan, tanpa harus terlebih dahulu mendekatkan diri dengan pusat industri hiburan di Jakarta.
Ia melihat banyak kreator daerah yang memiliki kualitas, basis penggemar, serta loyalitas penonton yang kuat. Kondisi tersebut menjadi pertimbangan untuk menghadirkan kolaborasi antara kreator lokal dan aktor nasional.
"Kalau dahulu orang ingin terkenal atau menjadi artis harus mendekat ke industri di Jakarta. Sekarang, dengan masifnya penggunaan internet, semua orang memiliki kesempatan yang sama, baik yang tinggal di kota maupun daerah," jelasnya.
Menurutnya, industri perfilman membutuhkan keberagaman wajah dan pilihan tontonan. Karena tidak ada jaminan sebuah film pasti berhasil di pasaran hanya karena dibintangi aktor papan atas, kolaborasi dengan kreator lokal menjadi salah satu alternatif yang patut dikembangkan.
Dalam film ini, terdapat sekitar 14 hingga 15 pemain, mulai pemeran utama, pendukung utama, hingga pemain pendukung lainnya.
Dominasi Bahasa Jawa dan Sentuhan Budaya Reog
Selain konsep cerita, identitas budaya Jawa menjadi salah satu kekuatan film Piye To Kih!.
Sekitar 85 persen dialog dalam film menggunakan bahasa Jawa. Meski demikian, penonton tidak perlu khawatir kesulitan memahami jalan cerita karena film tersebut dilengkapi subtitle.
Sutradara yang lahir di Ponorogo itu juga menyisipkan unsur kesenian Reog sebagai bentuk penghormatan terhadap daerah kelahirannya.
Meski tidak ditampilkan secara dominan, kehadiran Reog menjadi bagian dari upayanya memperkenalkan kekayaan budaya lokal melalui karya perfilman.
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai yang dibawa dalam film sebenarnya bersifat universal. Perjuangan, keikhlasan, dan proses memperbaiki diri merupakan pesan kehidupan yang dapat diterima masyarakat tanpa dibatasi perbedaan bahasa maupun latar belakang budaya.
Proses pengambilan gambar film ini berlangsung selama 20 hari pada Oktober 2025. Hampir seluruh lokasi syuting berada di kawasan Jabodetabek, meliputi Bogor, Bekasi, dan Jakarta.
Sidoarjo Masuk dalam Rangkaian Roadshow 17 Kota
Dalam rangka memperkenalkan film kepada masyarakat, tim produksi menggelar roadshow di 17 kota. Rangkaian promosi tersebut dimulai dari Semarang pada 22 Oktober, kemudian berlanjut ke Yogyakarta, Magelang, Solo, Sragen, Ngawi, Ponorogo, Madiun, Nganjuk, Mojokerto, Gresik, Surabaya, hingga Sidoarjo.
Sidoarjo menjadi salah satu kota yang dipilih karena salah satu pemeran utama, Dara Sarasvati, merupakan putri daerah yang lahir dan besar di Kota Delta.
Kehadiran tim produksi dalam roadshow tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk mendekatkan film kepada masyarakat di daerah.
Terkait target jumlah penonton, pihak sutradara memilih tidak menyebutkan angka secara spesifik. Ia berharap karya yang dibuat dengan sepenuh hati dapat diterima dan mendapat tempat di hati masyarakat.
Lebih jauh, pihak produksi juga telah menyiapkan rencana pengembangan film berikutnya. Saat ini, mereka tengah menjalani proses pengembangan cerita untuk produksi baru yang direncanakan mulai berjalan setelah Lebaran.
Apabila Piye To Kih! mendapatkan respons positif dari penonton, peluang untuk menghadirkan sekuel maupun prekuel juga terbuka.
"Kami berharap film ini bisa diterima dengan baik oleh masyarakat. Semoga masyarakat Sidoarjo dan sekitarnya turut memberikan dukungan agar kami bisa terus berkarya di industri perfilman Indonesia," pungkasnya.(Tyaz)
View

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments