EKO GAGAK : Menjahit Kembali Robekan Kemerdekaan, Refleksi Atas Keadilan Bangsa


 
Surabaya, Jawapes - BENDERAKU KUMAL" - Kibaran bendera yang robek di ujung tiang tertinggi adalah sebuah saksi bisu. Ia menolak untuk sekadar menjadi selembar kain yang melambai pasif di udara. Sebuah narasi yang berteriak tanpa suara, dan secara keseluruhan kalimat ingin menyampaikan bahwa bekas luka perjuangan (yang disimbolkan oleh kain yang robek) justru membuat nilai sebuah simbol menjadi jauh lebih berharga dan penuh arti dibandingkan dengan sesuatu yang tampak baru, mulus, dan tanpa sejarah.

Robekan itu menyiratkan pesan mendalam bahwa kemerdekaan sejati masih harus diperjuangkan dari cengkeraman ketidakadilan. Kita telah berhasil mengusir penjajah bermata biru, namun tugas terberat kita hari ini adalah membebaskan bangsa dari belenggu ketidakadilan yang diciptakan oleh saudara sebangsa sendiri serta menegaskan bahwa mempertahankan moral bangsa dan menegakkan keadilan hukum jauh lebih sulit daripada melawan musuh yang terlihat jelas (penjajah asing). Kemerdekaan sejati baru terwujud saat setiap warga negara mendapatkan hak dan perlakuan yang adil tanpa diskriminasi.

Sebagai bangsa yang besar, kita tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu dan melupakan substansi masa kini. Kewibawaan sebuah negara tidak tercermin dari retorika para pemimpinnya di atas podium, melainkan dari bagaimana hukum ditegakkan tanpa pandang bulu. Kita tidak boleh hanya membanggakan kejayaan sejarah pahlawan terdahulu, atau pencapaian masa lalu, hukum harus berlaku sama rata, baik bagi pejabat, orang kaya maupun rakyat kecil (tidak tebang pilih).

Ketika hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah, saat itulah kita sedang merobek makna merah putih yang sesungguhnya. Karakter kebangsaan kita yang berlandaskan Pancasila menuntut kita untuk menempatkan keadilan sosial sebagai tujuan utama, bukan sekadar hiasan di buku-buku sejarah.

Kritik ini bukan bentuk pesimisme, melainkan wujud cinta tanah air yang paling murni. Menolak diam atas ketidakadilan adalah cara kita menjaga martabat bangsa. Kita perlu menyadari bahwa musuh nyata saat ini adalah korupsi, kesenjangan ekonomi yang menganga, dan pengabaian hak-hak rakyat kecil.

Jika instansi dan pemangku kebijakan terus menutup mata, maka kain bendera yang robek itu akan semakin tercabik-cabik oleh kekecewaan publik.

Oleh karena itu, mari jadikan simbol bendera yang robek ini sebagai momentum pengingat. Sudah saatnya seluruh elemen bangsa, terutama para pemegang kekuasaan, bergerak bersama untuk menjahit kembali robekan tersebut. Caranya adalah dengan mengembalikan integritas moral, menegakkan hukum secara adil, dan memastikan kesejahteraan merata dari Sabang sampai Merauke. Hanya dengan keadilan yang kokoh, kita dapat mengibarkan merah putih dengan utuh, megah, dan penuh wibawa di mata dunia.

"Artikel Penulis Opini Puisi Aktivis 98-Agustus 2026"

Baca Juga

View

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama

Rizal Diansyah, ST

Pimpred Media Jawapes. WA: 0818306669

Countact Pengaduan