Jawapes, SIDOARJO – Suasana penuh kehangatan dan persaudaraan lintas iman mewarnai kegiatan Buka Puasa Bersama yang digelar pada Jum’at (27/2/2026), bertempat di GKJW Sidoarjo, Jl. Kombes Pol. M. Duryat No. 66, Sidoklumpuk, Kecamatan/Kabupaten Sidoarjo.
Kegiatan bertema “Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi” tersebut menghadirkan Dr. (H.C) Dra. Hj. Sinta Nuriyah Wahid, M.Hum., istri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, dan diikuti sekitar 500 peserta dari berbagai latar belakang agama, komunitas, serta elemen masyarakat. Acara ini diprakarsai oleh komunitas Gusdurian Sidoarjo dengan penanggung jawab Budi Basuki, M.MT.
Dalam sambutannya, Pendeta Noven Nataniel menyampaikan rasa hormat dan kebanggaan atas kehadiran Sinta Nuriyah Wahid beserta rombongan di tengah warga Sidoklumpuk.
Ia menegaskan bahwa kehadiran beliau bukan sekadar kunjungan silaturahmi, melainkan simbol penguat semangat toleransi dan persaudaraan kebangsaan. “Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengajarkan kesabaran, empati, serta toleransi antar umat beragama. Kebersamaan hari ini membuktikan bahwa perbedaan adalah kekuatan untuk saling menguatkan,” ungkapnya.
Pendeta Noven juga menyampaikan apresiasi kepada sahabat-sahabat Gus Dur dan seluruh panitia yang telah bekerja dengan penuh keikhlasan demi terselenggaranya kegiatan tersebut.
Momentum Ramadhan semakin bermakna dengan penyerahan santunan kepada anak-anak yatim oleh Sinta Nuriyah Wahid. Dengan penuh kasih, beliau menyapa dan mendoakan mereka satu per satu, menghadirkan suasana haru yang menyentuh hati para hadirin.
Santunan tersebut menjadi simbol bahwa nilai keagamaan harus diiringi dengan aksi nyata kemanusiaan, terutama bagi mereka yang membutuhkan perhatian dan uluran tangan.
Dalam tausiyah kebangsaannya, Sinta Nuriyah Wahid menyampaikan pesan yang mendalam dan reflektif. Ia menekankan bahwa puasa adalah proses pendidikan spiritual sekaligus sosial yang membentuk kepekaan hati.
Menurutnya, di tengah situasi bangsa yang menghadapi bencana alam, krisis kemanusiaan, serta dinamika demokrasi, puasa mengajarkan empati nyata merasakan penderitaan sesama dan mendorong aksi solidaritas, bukan sekadar ritual seremonial.
Beliau juga menggarisbawahi pentingnya menjaga persatuan dan kerukunan lintas iman sebagai fondasi moral bangsa. Indonesia dibangun atas kebhinekaan, sehingga perjumpaan lintas agama, seperti buka puasa bersama di gereja, adalah simbol kuat persaudaraan kebangsaan yang harus dirawat agar tidak tergerus polarisasi dan intoleransi.
Terkait demokrasi, beliau mengingatkan bahwa demokrasi tidak boleh berhenti pada prosedur lima tahunan. Demokrasi harus dijalankan dengan kejujuran, keadilan, dan keberpihakan kepada rakyat kecil. Kritik dan perbedaan pendapat adalah bagian dari demokrasi yang sehat, selama tetap berada dalam koridor etika dan konstitusi.
Sinta Nuriyah juga menekankan pentingnya peran masyarakat sipil, tokoh agama, serta komunitas lintas iman dalam menjaga harmoni sosial. Ketika ruang publik diwarnai ketegangan, masyarakatlah yang menjadi penyangga persatuan melalui dialog, kerja bersama, dan aksi kemanusiaan.
Beliau mengajak seluruh hadirin menjadikan Ramadhan sebagai momentum refleksi kebangsaan untuk memperkuat solidaritas, gotong royong, serta nilai kemanusiaan universal. Puasa, katanya, melatih pengendalian diri agar setiap individu mampu menahan diri dari ujaran kebencian, provokasi, maupun tindakan yang merusak persatuan.
Di akhir tausiyahnya, beliau mengingatkan agar semangat perjuangan kemanusiaan dan pluralisme yang diwariskan almarhum Abdurrahman Wahid terus dilanjutkan oleh generasi penerus bangsa dengan menjadikan nilai rahmatan lil ‘alamin’ sebagai landasan kehidupan bernegara.
Acara dilanjutkan dengan doa bersama dan pelaksanaan buka puasa dalam suasana penuh kehangatan. Hidangan sederhana yang tersaji menjadi simbol kebersamaan tanpa sekat, mempererat tali silaturahmi antar umat beragama di Kabupaten Sidoarjo. Kegiatan ini dilakukan dengan penuh kesan mendalam, diiringi doa dan harapan agar silaturahmi lintas iman ini terus terjaga.
Sementara itu, Batuud Koramil 0816/01 Sidoarjo, Serma Arif, menyampaikan bahwa kegiatan berlangsung aman, tertib, dan penuh kekeluargaan. Ia menilai acara tersebut tidak hanya mempererat ukhuwah kebangsaan, tetapi juga menjadi contoh nyata bahwa TNI bersama seluruh elemen masyarakat siap mendukung terciptanya situasi wilayah yang kondusif, harmonis, dan berlandaskan nilai persatuan.
Kegiatan Buka Puasa Bersama ini menjadi bukti bahwa di tengah tantangan zaman, semangat kebhinekaan dan solidaritas tetap tumbuh subur di Bumi Delta, menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk merawat Indonesia yang damai dan berkeadilan.(Tyaz)
View

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments