Audiensi Jawapes dan KPH Malang Dorong Pengembangan Wisata Edukasi Budaya Gunung Kawi

Jawapes Malang – Yayasan Jawapes Indonesia Emas menggelar audiensi penjajakan kerja sama bersama KPH Malang pada Rabu, 18 Februari 2026 di Aula 1 KPH Malang untuk membahas pengembangan wisata edukasi budaya di Gunung Kawi, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Agenda ini menindaklanjuti Surat Nomor 009/YJIE/II/2026 tanggal 9 Februari 2026 tentang sinergi penguatan kawasan berbasis budaya dan pemberdayaan masyarakat.

Yayasan memaparkan program Djagad Anyar sebagai konsep pembentukan kawasan mandiri melalui klaster edukasi dan budaya, optimalisasi lahan sekitar area Perhutani, penguatan atraksi kearifan lokal, serta kolaborasi perguruan tinggi dalam penerapan teknologi tepat guna dengan tetap menjaga fungsi hutan dan kelestarian lingkungan.

Ketua Yayasan, Rizal Diansyah Soesanto ST CPLA, menegaskan kawasan ini diarahkan menjadi model konservasi produktif. 

“Djagad Anyar membangun ekosistem budaya dan pendidikan berkelanjutan. Target kami menciptakan kemandirian sehingga tidak ada desa tertinggal di sekitar Gunung Kawi,” ujar Rizal. 

Ia menambahkan program mencakup penguatan tata kelola destinasi, pengembangan ekonomi kreatif, pemberdayaan UMKM berbasis budaya lokal, workshop peningkatan kapasitas SDM, hingga fasilitasi akses permodalan usaha.

Pembina Yayasan, M. Samsul, yang juga Direktur Utama PT Trofi Fajar Timur Sakti, menyatakan koordinasi lintas sektor termasuk dengan Kementerian Desa telah dilakukan.

“Kami pastikan program terintegrasi dan berdampak ekonomi nyata dengan memaksimalkan peran UMKM,” ujar Samsul 

Koordinator Pelaksana, Bambang, menambahkan pendekatan kawasan tematik akan mengoptimalkan potensi eksisting sekaligus menciptakan daya tarik baru bagi sektor pariwisata Malang.

Kepala Administratur KPH Malang, Ir. Kelik Djatmiko, mengapresiasi inisiatif tersebut. 

“Gunung Kawi, termasuk Keraton Gunung Kawi yang dikelola Perum Perhutani, memiliki potensi besar untuk dikembangkan dengan tetap menjaga karakter dan kearifan lokal,” katanya.

Kepala Pengembangan Usaha KPH Malang, Eko Ali Ismail, menegaskan perlunya penentuan lokasi dan survei lapangan guna memastikan kesesuaian konsep. 

Asper BKPH Kepanjen, Tamat Totok, menyatakan kesiapan melakukan pengecekan sebagai tindak lanjut.

KPH Malang membuka ruang kolaborasi sesuai regulasi dan ketentuan Perum Perhutani.

Audiensi ini menjadi langkah awal penguatan Gunung Kawi sebagai destinasi wisata edukasi budaya yang berdaya saing serta mendorong percepatan penghapusan desa tertinggal di wilayah sekitarnya. (Tim)

Baca Juga

View

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama

Rizal Diansyah, ST

Pimpred Media Jawapes. WA: 0818306669

Countact Pengaduan