Rumah Kemaslahatan Indonesia Gelar Sholat Goib Bersama Untuk Keselamatan Indonesia


Jawapes Surabaya - Semangat kebersamaan dan tenggang rasa ikut merasakan kepedihan ibu pertiwi dicontohkan oleh arek arek Suroboyo. Betapa tidak ketika elit negeri tak peka hanya berkutat pada persoalan pribadi dan ambisi kekusaan serta hilangnya rasa malu, Senin malam ( 30/9/2019 ), Pukul 20.00 arek arek Suroboyo melaksanakan sholat ghaib dan tahlil di Rumah Kemaslahatan Indonesia ( RKI ), Darmo Kali 61 Surabaya.

Sholat ghaib dihadiri tidak kurang dari 50 orang, berasal dari beberapa elemen dan aktivis Jatim. Tampak beberapa aktivis dari Surabaya, Malang dan Jombang. Sholat dan Tahlil dilaksanakan di Jalan didepan markas besar RKI. Sholat dan tahlil dipimpin oleh Haki, Ketua PMII Surabaya. Beberapa elemen aktivis yang hadir diantaranya berasal dari PMII, HMI,RKI, KBRS, serta beberapa alumni ITS.

Setelah gelaran doa dan tahlil dilaksanakan diskusi tentang persoalan Indonesia kekinian, mulai demo mahasiswa dan persoalan “genocida” di Wamena serta hal hal lain menyangkut keselamatan Indonesia, seperti persoalan kebakaran hutan, kenaikan iuran BPJS yang semakin menyengsarakan rakyat.

Diskusi dipandu oleh Reni, mantan senator mahasiswa Indonesia. Menurut Reni dipilihnya tanggal ini ( 30/9/209/ karena pada tanggal ini, Indonesia pernah mengalami masa kelam adanya pemberontakan G 30 S, PKI yang berusaha melakukan genocida kepada lawan lawan politiknya. Sejarah kelam kekejaman PKI menjadi momentum mengingatkan kembali bahwa Pancasila sebagai pemersatu dan tidak boleh ada lagi sesama anak bangsa saling bantai dan saling bunuh. Indonesia adalah rumah kita dan milik kita dan harus kita rawat dan kita jaga.

Saipul, mantan aktivis mahasiswa ITS, selaku direktur RKI menyampaikan bahwa diskusi kita hari ini karena karena keterpanggilan kita karena kita mencintai negeri ini. ” Saya meyakini bahwa siapapun yang hadir pada diskusi malam ini, Selamatkan Indonesia  mereka yang mencintai Indonesia ".Ujar Saipul.

” Carut marut negeri ini diakibatkan karena bangsa ini sudah kehilangan haluan, sehingga mengembalikan Indonesia kepada UUD 1945 yang asli dan Pancasila, akan mengembalikan Indonesia kejalan yang benar “, Tegas Saiful.


Trijono Hardjono yg akrab di panggil (Jojon) aktivis tahun 80 an menyampaikan beberapa persoalan bangsa dengan satu pernyataan apa yang terjadi beberapa hari ini dan sampai malam ini adalah persoalan kemerdekaan yang belum tuntas. Ada rangkaian sejarah yang belum selesai mulai tahun 1945, 1965, 1974, 1985, dan1998. Sekarang ini 2019 diharapkan bisa merangkai persoalan persoalan tersebut dan bisa dicarikan jalan keluarnya. Jojon menggambarkan dalam berjuang menyelesaikan persoalan Indonesia para founding father pernah melalui jalan kooperatif dan non kooperatif.

Aksi mahasiswa 2019 sebagai contoh sebagai bagian aksi menuntaskan kemerdekaan dimulai dengan kemerdekaan berpikir dan berekspresi yang ” ditunggangi ” oleh kepentingan rakyat.
Harapan Jojon semua persoalan yang terjadi hari ini seharusnya bisa diselesaikan di dalam Senayan, biarlah mahasiswa dan rakyat masuk ke gedung DPR dan silahkan DPR dan MPR dilantik, sehingga terjadi dialektika antara rakyat dengan wakilnya.

Roni aktivis Malang mengatakan bahwa kehidupan berdemokrasi kita sekarang ini mundur kebelakang melebihi orde baru, fasis dan otoriter. Pelarangan mahasiswa dengan mengancam rektor yang membiarkan mahasiswanya demo, adalah contoh betapa otoriternya kekuasaan. Aksi demo hari ini bahkan juga dilakukan oleh pelajar ini merupakan bentuk keresahan. Sehingga gerakan mahasiswa maupun pelajar ini harus menjadi gerakan rakyat melawan otoritarianisme. Roni menawarkan konsolidasi gerakan rakyat menjadi sebuah keniscayaan.
(C.San Isa)
Baca Juga

View

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama

Rizal Diansyah, ST

Pimpred Media Jawapes. WA: 0818306669

Countact Pengaduan