Jawapes Lumajang - Salah satu gagasan dan ide terbaik dari pemerintah daerah kabupaten Lumajang, salah satunya persoalan sampah yang masih jadi PR banyak daerah, warga RW 11 Kelurahan Jogotrunan, Kabupaten Lumajang justru memilih bergerak nyata sejak pandemi covid 19 sampai sekarang, Minggu (13/9/2026),
Warga secara rutin mengumpulkan dan memilah sampah rumah tangga yang kemudian disetorkan ke bank sampah sesuai dengan jadwal rutin. Kegiatan ini bukan sekadar bersih-bersih. Dimana sampah yang tadinya dianggap tidak berguna kini berubah jadi saldo tabungan, sayur, hingga kebutuhan pokok lainnya.
Setiap minggu, warga membawa sampah anorganik yang sudah kering dan bersih. Mulai dari botol plastik, kardus, kertas, kaleng, hingga logam bekas.
Sementara untuk sampah organik seperti sisa makanan, dedaunan dan kulit buah tidak dibuang. Warga mengolahnya sendiri menjadi kompos untuk pupuk tanaman di pekarangan.
"Sampah yang kami setor ke bank sampah akan ditimbang dan dicatat, bisa di buku tabungan atau sistem digital. Nanti terakumulasi jadi uang tunai atau bisa ditukar kebutuhan pokok seperti sayur," jelas pengurus bank sampah setempat.
Ketua RW 11 Kelurahan Jogotrunan, Eko Santoso menyampaikan rasa bangganya atas kekompakan warganya. Ia bersyukur karena warga sudah sadar
"Alhamdulillah warga RW 11 sudah sadar. Dulu sampah dibakar atau dibuang ke sungai. Sekarang kami pilah. Yang laku dijual kita setor ke bank sampah, yang organik kita bikin kompos," ujarnya.
Di masing rumah warga sudah tersedia tempat Komposter rumah tangga dimana sisa limbah makanan rumah tangga bisa langsung di buang ke tempat ini, yang kemudian bisa menghasilkan pupuk padat serta pupuk organik cair.
Bagi Eko, bank sampah bukan hanya soal ekonomi. Menurutnya, manfaat kegiatan ini lingkungan bisa jadi bersih, sungai tidak tercemar, dan ada tambahan pemasukan untuk ibu-ibu.
"Gerakan kecil ini kalau istiqomah dampaknya besar untuk Jogotrunan," tambahnya.
Salah satu Ketua RT di wilayah RW 11 juga mengapresiasi inisiatif warganya. "Awalnya yang ikut 5-6 rumah. Lama-lama nular. Sekarang hampir tiap RT sudah ada yang nyetor rutin tiap Minggu. Ibu-ibu paling semangat, bapak-bapak bagian ngangkut," katanya.
Ibu Sri, salah satu warga yang rajin setor, mengaku awalnya iseng ikut. "Ya awalnya cuma botol aqua bekas sama kardus mie. Eh pas ditimbang dapat saldo. 2 bulan sekali bisa buat tukar sayur dan telur. Lumayan buat dapur," tuturnya sambil tersenyum.
Hal senada disampaikan Pak Miadi, warga lainnya.
"Dulu sampah numpuk di belakang rumah. Bau. Sekarang bersih. Sisa sayur saya buat kompos buat nanem cabe di pot. Jadi dobel manfaatnya," ujarnya.
Kini kesadaran lingkungan kian meningkat. Warga sekarang sudah terbiasa memilah sampah dari rumah. Mereka berharap Jogotrunan jadi kelurahan percontohan bank sampah di Lumajang. Dari RW 11 dulu, baru menyebar.
" Dukungan semua pihak mulai dari pengurus lingkungan, posyandu, kader PKK, bank sampah, pengurus proklim dan warga semua program yang baik bisa dijalankan dengan bergotong royong, untuk itu kami banyak- banyak mengucapkan rasa terima kasih, termasuk dari kelurahan Jogotrunan, DLH kabupaten Lumajang serta pihak swasta yang terus memberikan arahan kepada warga lingkungan RW 11 Jogotrunan," tindasnya.
Berharap kedepannya baik itu dari pemerintah daerah kabupaten Lumajang yang sudah sering bersosialisasi tentang dampak dari sampah yang kurang tertata, dan ingin wakil rakyat baik itu DPD, DPR RI, DRPD Provinsi maupun DPRD Kabupaten Lumajang ada ide maupun inovasi untuk langsung bergerak nyata turun kebawah agar persolan sampah bisa di selesaikan bersama sama.
(Tim )
View
Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments