Kegiatan tersebut diikuti sekitar 700 jamaah. Kehadiran masyarakat dari berbagai kalangan menjadikan kegiatan keagamaan tersebut bukan hanya sebagai momentum untuk memperdalam kecintaan terhadap Al-Qur’an, tetapi juga menjadi ruang mempererat silaturahmi dan kebersamaan warga.
Rangkaian kegiatan diawali ketika jamaah mulai berdatangan dan memenuhi area masjid. Suasana perlahan menjadi semakin khidmat seiring masyarakat mempersiapkan diri mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Ketua Pelaksana Agus Ainur Rofiq menyampaikan sambutan sekaligus membuka rangkaian kegiatan. Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan Sema’an ayat-ayat suci Al-Qur’an yang diikuti jamaah dengan penuh perhatian dan kekhusyukan.
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut hingga malam hari dengan tausiah keagamaan yang disampaikan oleh KH Agus Sabuth dari Kediri. Setelah seluruh rangkaian kegiatan keagamaan selesai, acara ditutup pada pukul 22.00 WIB dalam suasana tertib, aman, dan penuh kebersamaan.
Sema’an Al-Qur’an memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar aktivitas membaca dan menyimak ayat-ayat suci. Di dalamnya terdapat proses membangun hubungan spiritual sekaligus menghadirkan ruang refleksi bagi setiap individu untuk menata kembali kehidupan melalui nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an. Kehadiran sekitar 700 jamaah menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat dalam menjaga tradisi keagamaan sekaligus memperkuat ikatan sosial di lingkungan tempat tinggal.
Masjid dalam konteks tersebut tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga dapat berfungsi sebagai ruang perjumpaan masyarakat. Warga dari berbagai latar belakang bertemu dalam suasana yang setara, duduk bersama, menyimak ayat suci, mengikuti tausiah, dan membangun komunikasi dalam bingkai persaudaraan. Nilai-nilai tersebut menjadi penting di tengah kehidupan masyarakat yang semakin dinamis. Ketika ruang sosial diisi dengan kegiatan positif dan konstruktif, masyarakat memiliki kesempatan lebih besar untuk membangun komunikasi yang sehat serta menjaga harmoni lingkungan.
Babinsa Koramil 0816/16 Waru Desa Kureksari Serda Sayekti menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan Sema’an Al-Qur’an Jantiko Mantap dan Zikrul Ghofilin yang diikuti ratusan jamaah tersebut. Menurutnya, kegiatan keagamaan yang melibatkan masyarakat dalam jumlah besar memiliki nilai penting, tidak hanya dalam kehidupan spiritual, tetapi juga dalam membangun hubungan sosial yang harmonis.
“Kegiatan seperti ini memiliki makna yang sangat positif bagi masyarakat. Selain menjadi sarana untuk meningkatkan kecintaan dan kedekatan kita dengan Al-Qur’an, kegiatan ini juga menjadi ruang silaturahmi yang mempertemukan warga dalam suasana penuh ketenangan dan kebersamaan,” ujar Serda Sayekti.
Ia menilai nilai-nilai yang disampaikan melalui kegiatan keagamaan dapat menjadi fondasi moral dalam kehidupan bermasyarakat. “Al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca dan didengarkan, tetapi nilai-nilainya juga perlu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Semangat saling menghormati, menjaga persaudaraan, membantu sesama, dan menciptakan kedamaian merupakan bagian penting yang harus terus kita tumbuhkan di lingkungan masyarakat,” jelasnya.
Menurut Serda Sayekti, masyarakat yang memiliki kehidupan keagamaan yang baik cenderung memiliki modal sosial yang kuat karena terdapat nilai kebersamaan, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Babinsa juga menekankan pentingnya menjaga kerukunan, terutama di tengah kehidupan masyarakat yang heterogen dan memiliki berbagai aktivitas serta kepentingan.
Menurutnya, kerukunan tidak tumbuh secara otomatis, melainkan perlu dirawat melalui komunikasi, sikap saling menghargai, dan kemauan untuk menjaga kepentingan bersama. “Kerukunan harus kita rawat bersama. Kegiatan keagamaan seperti ini dapat menjadi salah satu sarana untuk memperkuat hubungan antar sesama warga. Ketika masyarakat sering bertemu dalam kegiatan yang positif, komunikasi akan semakin baik dan rasa persaudaraan juga akan semakin kuat,” ungkapnya.
Ia berharap semangat kebersamaan yang terlihat dalam kegiatan tersebut tidak berhenti ketika acara berakhir, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Harapannya, setelah kegiatan ini selesai, nilai-nilai yang diperoleh dapat dibawa pulang dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita jadikan lingkungan kita sebagai tempat yang nyaman, aman, saling menghormati, dan saling membantu,” tuturnya.
Sebagai aparat kewilayahan, Serda Sayekti turut memastikan kegiatan berjalan dalam kondisi aman dan tertib. Kehadiran Babinsa menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, pengurus masjid, serta warga.
Menurutnya, kegiatan masyarakat dalam jumlah besar membutuhkan koordinasi yang baik agar seluruh rangkaian dapat berlangsung dengan nyaman. “Sebagai Babinsa, kami berkewajiban membantu menjaga situasi wilayah agar tetap aman dan kondusif. Ketika masyarakat melaksanakan kegiatan keagamaan dengan jumlah jamaah yang besar, kami berupaya membangun koordinasi dengan panitia, Bhabinkamtibmas, pengurus masjid, dan unsur masyarakat lainnya,” katanya.
Ia menambahkan, keamanan bukan hanya tanggung jawab aparat, melainkan hasil dari kesadaran bersama. “Keamanan akan lebih mudah tercipta apabila seluruh masyarakat memiliki kesadaran untuk saling menjaga. Kami mengajak warga untuk tetap tertib, menjaga lingkungan, dan menghormati sesama selama mengikuti setiap kegiatan,” imbuhnya.
Rangkaian Zikrul Ghofilin dan tausiah yang dilaksanakan hingga malam hari memberikan kesempatan kepada jamaah untuk sejenak mengambil jarak dari rutinitas kehidupan dan melakukan refleksi spiritual.
Di tengah kesibukan masyarakat, ruang untuk merenung dan menata batin menjadi sesuatu yang penting. Kegiatan keagamaan dapat menjadi sarana untuk menguatkan kembali orientasi hidup, membangun ketenangan, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa kehidupan bermasyarakat membutuhkan keseimbangan antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama. Tausiah yang disampaikan KH Agus Sabuth dari Kediri turut memberikan warna tersendiri dalam rangkaian kegiatan. Pesan-pesan keagamaan menjadi ruang bagi jamaah untuk memperkaya pemahaman sekaligus mengambil pelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Bagi masyarakat Dusun Pulosari dan Desa Kureksari, kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa tradisi keagamaan masih memiliki tempat yang kuat dalam kehidupan sosial masyarakat. Lebih dari sekadar berkumpul, ratusan jamaah hadir membawa satu semangat yang sama: mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperkuat kecintaan terhadap Al-Qur’an, sekaligus merawat persaudaraan dengan sesama.
Kegiatan Sema’an Al-Qur’an Jantiko Mantap dan Zikrul Ghofilin di Masjid Al-Ittihad menjadi gambaran bahwa ketahanan sosial masyarakat dapat tumbuh dari ruang-ruang sederhana yang dibangun atas dasar kebersamaan. Masjid menjadi titik temu antara nilai spiritual dan kehidupan sosial. Dari sana, pesan tentang kedamaian, kepedulian, persaudaraan, serta tanggung jawab bersama dapat terus ditanamkan dan diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kehadiran unsur TNI dan Polri bersama tokoh agama, pengurus masjid, pemerintah lingkungan, serta masyarakat juga menunjukkan pentingnya sinergi dalam menjaga kehidupan sosial yang aman dan harmonis. Bagi Babinsa, keterlibatan dalam kegiatan masyarakat bukan sekadar menjalankan tugas kewilayahan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membangun kedekatan emosional dengan warga.
“Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat merasa nyaman dan aman dalam menjalankan aktivitasnya. Ketika masyarakat dapat beribadah dengan tenang, bersilaturahmi dengan baik, dan saling menghormati, maka itu menjadi modal penting bagi terciptanya lingkungan yang kondusif,” pungkas Serda Sayekti.
Dari Masjid Al-Ittihad, semangat tersebut kembali ditegaskan: ketika Al-Qur’an dibaca dengan hati, nilai-nilainya dihayati, dan persaudaraan dirawat dalam kehidupan nyata, maka kegiatan keagamaan tidak hanya menghadirkan ketenangan bagi jiwa, tetapi juga dapat menjadi energi positif bagi kehidupan masyarakat. Seluruh rangkaian kegiatan Sema’an Al-Qur’an Jantiko Mantap dan Zikrul Ghofilin berlangsung aman, tertib, lancar, dan penuh kekhusyukan, dengan dukungan serta partisipasi aktif masyarakat setempat.(Tyaz)
View

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments