Tim SAR gabungan kini memutuskan untuk mengubah strategi. Setelah tiga hari menyisir aliran sungai tanpa hasil, pencarian resmi diperluas hingga ke perairan laut. Langkah ini diambil menyusul dugaan kuat bahwa tubuh korban telah terbawa arus hingga ke muara.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief, mengungkapkan bahwa evaluasi lapangan menunjukkan hasil di sepanjang bantaran kali. "Selama tiga hari pencarian di aliran sungai hasilnya nihil, sehingga kami memutuskan memperluas pencarian sampai ke laut," tegasnya melalui pesan singkat.
Penyisiran di perairan kini dilakukan dengan memetakan titik-titik di sepanjang garis pantai. "Sejak pagi tadi penyisiran dilakukan di wilayah laut, mulai dari Pantai Bahak ke arah timur sejauh 2,5 kilometer dan ke arah barat sekitar 4 kilometer," tambah Oemar.
Camat Tongas, Rochmad Widiarto menjelaskan bahwa operasi kemanusiaan ini melibatkan kolaborasi lintas sektor yang dibagi dalam dua zona utama. Zona pertama berfokus pada area darat dan aliran sungai Semendi-Bayeman yang melibatkan unsur Polsek, Koramil, Ansor, Satpol PP, hingga perangkat desa.
Sementara zona kedua menyasar wilayah perairan yang membutuhkan keahlian khusus. "Penyisiran di pantai dan muara dilakukan oleh BPBD, Basarnas Banyuwangi, serta dibantu oleh masyarakat nelayan sekitar yang lebih memahami karakteristik medan laut," kata Rahmad, Jumat (6/2/26) sore.
Identitas fisik korban pun disebarluaskan untuk mempercepat proses penemuan. Rahmad menyebut, sesaat sebelum hilang, Arsyad mengenakan kemeja biru motif garis dengan celana pendek hitam. Tragedi itu terjadi dalam hitungan menit yang sangat singkat.
"Usai disuapi ibunya, sang ibu mencuci piring. Selang lima menit, anak itu sudah tidak ada. Ibunya sempat mencari di sekitar dapur hingga ke luar rumah, namun hasilnya nihil," ungkap camat Tongas
Kesaksian serupa disampaikan oleh Anshori, anggota Ansor Desa Semendi. Ia menyebut bahwa Arsyad sempat terlihat oleh kerabatnya, Suyut, sesaat sebelum dinyatakan hilang. Saat itu, Suyut yang baru pulang dari sawah sempat menyapa balita mungil tersebut.
"Pak Suyut sempat menyapa korban saat melewati lahan belakang dekat pintu dapur. Namun tak lama setelah itu, korban tidak terlihat lagi," ujar Anshori.
Ia menambahkan, bahwa Jarak dapur rumah korban dengan bibir sungai memang tergolong sangat dekat, sehingga risiko terpeleset sangat besar.
Arsyad merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Ironisnya, musibah ini terjadi tepat di hari ulang tahunnya yang kedua. Suasana duka pun menyelimuti kediaman Abdul Manaf dan Zuharo, yang hingga kini masih menanti kepastian nasib buah hati mereka.
Saat di lapangan, personel SAR harus lebih berhati-hati dengan kondisi alam yang tidak menentu. Danang Purwanto, salah satu personel SAR gabungan, melaporkan bahwa dinamika cuaca di perairan Probolinggo menjadi tantangan tersendiri bagi tim.
"Cuaca pagi hingga siang sebenarnya cukup cerah dan mendukung. Namun, menjelang sore, angin barat mulai kencang yang memicu gelombang tinggi, Kondisi ini membuat tim harus ekstra waspada saat melakukan penyisiran menggunakan perahu." Jelas danang
Karena faktor keamanan, tim terpaksa menarik diri dari laut saat cuaca memburuk. "Tim memutuskan kembali ke posko di Balai Desa Bayeman untuk berkoordinasi dan memantau perkembangan situasi," imbuhnya.
Hingga berita ini ditulis, upaya pencarian belum membuahkan titik terang., tim gabungan menegaskan tidak akan menyerah dan terus bersiaga di titik-titik yang telah dipetakan.(Id)
View



Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments