Surabaya, Jawapes - Perayaan Tahun Baru, dengan diadopsinya Kalender Gregorian oleh banyak negara bekas jajahan sebagai warisan pemerintahan kolonial, kini menjadi fenomena global yang sarat dengan berbagai tradisi dan interpretasi. Namun, di balik gemerlap kembang api dan pesta pora, tersembunyi pula refleksi atas realitas sosial, ekonomi, dan politik yang dihadapi oleh bangsa.
Bagi Eko Gagak, seorang aktivis yang selalu lantang menyuarakan kebenaran, Tahun Baru 2026 bukan sekadar pergantian angka, melainkan momentum untuk merenungkan makna peradaban, tantangan global, dan nasib bangsa."Skala prioritas menjadi urusan gaya hidup dan simbol peradaban yang dibiarkan tunduk pada arus global sekuler. Bertahun-tahun Tahun Baru senantiasa diadakan, sejak lahir sampai sekarang di desain ulang model dan jenis perayaannya. Lonjakan lalu lintas, minuman keras dapat memicu tawuran seolah menjadi legitimasi sosial melepaskan kontrol diri dengan menghalalkan kelalaian secara kolektif. Sekularisme bekerja melalui normalisasi yang dipromosikan sebagai tradisi. Akibatnya ketinggalan zaman jika menolak," ujar Eko Gagak.
Ia menambahkan, tradisi perayaan Tahun Baru Masehi, yang diwarnai dengan kembang api, parade, dan ragam hiburan, sering kali diterima begitu saja tanpa refleksi mendalam. Padahal, di balik euforia tersebut, terdapat simbol dominasi peradaban sekuler yang dirayakan secara universal.
"Barang siapa menyerupai suatu kaum maka termasuk bagian dari kaumnya. Menolak perayaan bukanlah bentuk kebencian apalagi intoleran, menyalakan kembang api menandai cahaya hidup sejatinya kehilangan arah peradaban," tegasnya.
Eko Gagak juga menyoroti kerentanan kawasan iklim tropis terhadap perubahan iklim yang semakin ekstrem. Pergolakan menghantam berbagai penjuru dan mengguncang kehidupan dari pesisir hingga pegunungan. Persoalan klasik tak pernah teratasi, tragedi bencana dan musibah masih betah menggelayut pada ibu pertiwi.
"Terbelenggu ketidakadilan, menghakimi masalah berkaitan erat dan tidak berdiri sendiri. Memandang kejernihan perasaan berusaha melihat di berbagai sudut pandang yang menyelaraskan. Merefleksi serta mengejar mimpi dalam situasi dan kondisi apapun, semangat harus tetap bergeliat di aliran darah agar hidup lebih terasa. Bukankah sudah dijanjikan tak akan datang perubahan tanpa kita mengubahnya sendiri! Sejatinya bekerja sama dalam suatu bangsa menciptakan tentram kehidupan," imbuhnya.
Eko Gagak juga menyinggung permasalahan yang dihadapi oleh rakyat jelata, yang semakin tercekik oleh himpitan ekonomi. Jabatan, harta, dan kepentingan politik tak kunjung menyelesaikan persoalan. Berbagai pejabat korupsi, dolar melonjak, dan harga diri bangsa dipertaruhkan.
Ketika rakyat ditanya permasalahan negara, rakyat hanya mampu berkata, "Bagaimana peduli terhadap negara sedangkan kebutuhan perut saja harus diperjuangkan setiap hari ?!" Tak punya waktu untuk peliknya urusan negara. Hanya bisa apa jika sudah berkata seperti itu ? Apalagi mahasiswa, atau mahasiswi mau bicara apa? Seakan-akan mahasiswa mahasiswi saat ini, suaranya sudah tidak didengarkan lagi bagai angin lewat di tengah hujan yang memekakkan, tak terdengar sedikitpun. Nilai juang sudah tidak ada lagi di dada tentang kondisi bangsa ini. Diibaratkan "Jika negara ini dijual dan diserahkan maka tidak akan ada yang sadar sama sekali," ungkapnya nada prihatin.
Eko Gagak juga mengkritik aksi protes yang dilakukan oleh segelintir oknum yang hanya mementingkan kepentingan pribadi. Ia menilai bahwa kebaikan tak lagi menjadi rutinitas, dan pencitraan dikabarkan agar tampak layak meski titik kualitas sudah terkubur.
"Mengetahui kebenaran tetapi tak diungkap dijadikan bahan untuk cuan," tegasnya.
Di penghujung Tahun 2025, jagat raya digemparkan oleh ramalan mistikus yang dijuluki "Nostradamus dari Balkan" yang meninggalkan sederet prediksi kelam untuk Tahun 2026, mencakup eskalasi militer hingga guncangan ekonomi hebat.
"Tahun 2026 menjadi Tahun Kuda Api atau Fire Horse yang memiliki energi kuat dan penuh dinamika. Diprediksi menjadi tahun yang menantang terkait pengangguran dan kemiskinan. Meskipun pemerintah menargetkan penurunan angka pengangguran terbuka tetapi perlambatan ekonomi dan jumlah angkatan kerja baru belum terserap terutama Gen Z yang mendominasi pengangguran terbesar. Secara keseluruhan, Tahun 2026 menjadi periode krusial di tengah ketidakpastian ekonomi," pungkas Eko Gagak.
Artikel : Eko Gagak
Ketika rakyat ditanya permasalahan negara, rakyat hanya mampu berkata, "Bagaimana peduli terhadap negara sedangkan kebutuhan perut saja harus diperjuangkan setiap hari ?!" Tak punya waktu untuk peliknya urusan negara. Hanya bisa apa jika sudah berkata seperti itu ? Apalagi mahasiswa, atau mahasiswi mau bicara apa? Seakan-akan mahasiswa mahasiswi saat ini, suaranya sudah tidak didengarkan lagi bagai angin lewat di tengah hujan yang memekakkan, tak terdengar sedikitpun. Nilai juang sudah tidak ada lagi di dada tentang kondisi bangsa ini. Diibaratkan "Jika negara ini dijual dan diserahkan maka tidak akan ada yang sadar sama sekali," ungkapnya nada prihatin.
Eko Gagak juga mengkritik aksi protes yang dilakukan oleh segelintir oknum yang hanya mementingkan kepentingan pribadi. Ia menilai bahwa kebaikan tak lagi menjadi rutinitas, dan pencitraan dikabarkan agar tampak layak meski titik kualitas sudah terkubur.
"Mengetahui kebenaran tetapi tak diungkap dijadikan bahan untuk cuan," tegasnya.
Di penghujung Tahun 2025, jagat raya digemparkan oleh ramalan mistikus yang dijuluki "Nostradamus dari Balkan" yang meninggalkan sederet prediksi kelam untuk Tahun 2026, mencakup eskalasi militer hingga guncangan ekonomi hebat.
"Tahun 2026 menjadi Tahun Kuda Api atau Fire Horse yang memiliki energi kuat dan penuh dinamika. Diprediksi menjadi tahun yang menantang terkait pengangguran dan kemiskinan. Meskipun pemerintah menargetkan penurunan angka pengangguran terbuka tetapi perlambatan ekonomi dan jumlah angkatan kerja baru belum terserap terutama Gen Z yang mendominasi pengangguran terbesar. Secara keseluruhan, Tahun 2026 menjadi periode krusial di tengah ketidakpastian ekonomi," pungkas Eko Gagak.
Artikel : Eko Gagak
View

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments