Kasus Dugaan Penggelembungan Pasien Covid-19 Menjadi Perhatian LSM GANASS

Jawapes Sidoarjo - Ketua Umum LSM Gabungan Anak Sidoarjo Setia (GANASS),  
Chamim Putra Ghafoer akan menyikapi kasus dugaan adanya penggelembungan data pasien covid-19 di rumah sakit rujukan termasuk di RSUD Sidoarjo. Hal tersebut diungkap Chamim kepada awak media, Sabtu (17/10/2020).

Dikatakannya, Kami mengatasnamakan LSM GANASS akan siap menjadi tumbal untuk menegakkan aturan hukum. "Hal ini wajib disikapi dengan mengambil langkah hukum," tandasnya.

Sangat memalukan jika memang ada fakta tentang penggelembungan jumlah data pasien covid-19 di Sidoarjo. Apalagi saat ini di Sidoarjo masih masa pandemi, kok sangat licik sekali para maling itu mengambil kesempatan untuk mencari keuntungan diri sendiri, tegasnya.

"Kita berharap, aparat yang berwenang segera menyelidiki kasus ini, dan bila nanti terbukti, siapapun yang bermain harus dijebloskan ke penjara dan harus bertanggung jawab," ujar Chamim.

Sementara itu Sekjend, H.Yusuf Sugiyanto, SH. MH menambahkan, Kami LSM GANASS sudah dipastikan geruduk rumah sakit nakal tersebut. "Masyarakat Sidoarjo di paksa untuk was-was dan prihatin. Tapi maling-maling uang negara seenaknya memainkan data dan memanfaatkan covid-19 untuk bisnis dan memperkaya diri. Kami juga akan melayangkan surat audiensi dengan pihak terkait," ucapnya.

Perlu diketahui, awalnya tiga pilar yaitu, Kapolresta Sidoarjo Kombespol Sumardji, Dandim 0816 Sidoarjo Letkol Inf. M Iswan Nusi dan Kajari Sidoarjo Setiawan Budi Cahyono melakukan sidak di RSUD Sidoarjo dan rumah sakit rujukan lain.

Dalam laporan tersebut terbaca bahwa ada pasien positif covid-19 yang tidak dirawat namun dilaporkan ke Dinkes Sidoarjo sedang dilakukan perawatan.

Bahkan Kapolresta Sidoarjo Kombespol Sumardji meminta data jumlah pasien covid-19 yang sebenarnya kepada Dinkes dan rumah sakit rujukan lainnya karena ada pasien yang sudah meninggal dunia tetapi masih tercatat sebagai pasien covid-19 di Sidoarjo. 

Namun hal tersebut dibantah oleh Direktur RSUD Sidoarjo yang juga Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Sidoarjo dr. Atok Irawan terkait adanya tudingan penggelembungan data pasien covid-19 di 11 rumah sakit rujukan di Sidoarjo. 

Menurut dr. Atok Irawan, adanya perbedaan metode pendataan antara rumah sakit dan Dinas Kesehatan membuat jumlah pasien yang muncul juga berbeda.

Pihak rumah sakit melimpahkan kesalahan tersebut kepada Dinas Kesehatan Sidoarjo, karena menurut Atok, data yang disampaikan oleh Dinas Kesehatan Sidoarjo merupakan data yang terlambat, sedangkan data yang dipakai oleh rumah sakit adalah data pasien covid-19 yang real time dan dilaporkan secara online.(Tim

join

join


kali berita ini telah dibaca

Post a comment

0 Comments

wa