Madya Jenggala Nusantara Gelar Ruwatan Agung Muharram 1448 H, Lestarikan Tradisi Spiritual dan Budaya Jawa


Jawapes, SIDOARJO – Dalam rangka menyambut dan memperingati Bulan Muharram 1448 Hijriah, Madya Jenggala Nusantara kembali menggelar Ruwatan Agung sebagai agenda tahunan yang sarat makna spiritual dan pelestarian budaya Jawa. Kegiatan tersebut berlangsung khidmat di Dusun Jodogan Desa Grabagan Kecamatan Tulangan pada Minggu (28/6/2026) dengan diikuti para anggota, tokoh masyarakat, serta tamu undangan yang hadir untuk mengikuti rangkaian prosesi.

Ruwatan Agung menjadi salah satu tradisi yang secara konsisten dilaksanakan setiap datangnya Bulan Muharram. Momentum ini dimanfaatkan sebagai sarana introspeksi diri, mempererat silaturahmi, sekaligus memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan keselamatan, kesehatan, ketenteraman batin, dan kelimpahan rezeki bagi seluruh peserta maupun masyarakat.

Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama dan pengajian yang berlangsung penuh kekhusyukan. Para peserta tampak mengikuti setiap prosesi dengan penuh penghayatan sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon keberkahan dalam menjalani kehidupan.

Pimpinan spiritual Madya Jenggala Nusantara, Romo Drs. Bagus Ariana, menjelaskan bahwa prosesi inti dalam Ruwatan Agung adalah siraman menggunakan air yang berasal dari tujuh sumber mata air pilihan yang memiliki nilai historis dan spiritual.

"Siraman Ruwatan Agung ini menggunakan tujuh sumber mata air pilihan, di antaranya Air Jolotundo, Air Banyu Towo Trowulan, air dari Gunung Semeru, Sumber Kahuripan, serta beberapa sumber mata air sakral lainnya yang telah dipersiapkan secara khusus untuk prosesi ruwatan," ujar Romo Bagus Ariana.

Menurutnya, penggunaan tujuh sumber mata air tersebut melambangkan kesucian, keseimbangan, dan harapan agar setiap individu memperoleh energi positif dalam menjalani kehidupan. Tradisi siraman tidak hanya dimaknai sebagai penyucian diri secara simbolis, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya leluhur yang masih relevan untuk dilestarikan.

"Prosesi siraman ruwatan merupakan bagian dari spiritualitas sekaligus pelestarian budaya Jawa yang bertujuan memohon keselamatan, ketenteraman batin, keberkahan, serta membuang energi negatif yang menghambat perjalanan hidup seseorang," tuturnya.

Ia menambahkan bahwa Ruwatan Agung bukan sekadar ritual seremonial, melainkan menjadi media untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, serta menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.

Melalui penyelenggaraan Ruwatan Agung setiap tahun, Madya Jenggala Nusantara berharap tradisi budaya yang diwariskan para leluhur tetap terjaga dan dapat dikenalkan kepada generasi muda sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan menjadi momentum untuk membangun optimisme, memperkuat spiritualitas, dan menumbuhkan semangat menjalani kehidupan dengan hati yang bersih serta penuh rasa syukur.

Suasana khidmat dan penuh kebersamaan yang mewarnai seluruh rangkaian acara menjadi cerminan bahwa nilai-nilai budaya dan spiritual masih memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat modern. Dengan semangat Muharram sebagai awal tahun baru Hijriah, Madya Jenggala Nusantara mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga persatuan, melestarikan budaya, serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Baca Juga

View

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

أحدث أقدم

Rizal Diansyah, ST

Pimpred Media Jawapes. WA: 0818306669

Countact Pengaduan