![]() |
| Akademisi NU Unej yang tergabung dalam Lentera Intelektual Aswaja menyampaikan paparan hasil kajian awal mitigasi banjir di hadapan Bupati Situbondo |
Jawapes, SITUBONDO — Komunitas akademisi Nahdlatul Ulama dari Universitas Jember yang tergabung dalam Lentera Intelektual Aswaja memaparkan hasil kajian awal terkait mitigasi banjir yang terjadi di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.
Paparan tersebut disampaikan langsung di hadapan Bupati Situbondo bersama jajaran Dinas Lingkungan Hidup dan BPBD setempat di Pendopo Pate Alos Besuki, Rabu (8/4/2026).
Ketua Lentera Intelektual Aswaja Universitas Jember, Nurul Ghufron, mengatakan Situbondo memiliki sejumlah titik rawan banjir, termasuk banjir bandang yang berulang pada awal 2026 ini. Bencana tersebut tidak hanya merusak infrastruktur seperti jalan, irigasi dan jembatan, tetapi juga berdampak pada sektor pertanian, peternakan, hingga menimbulkan korban jiwa dan kerusakan rumah warga.
"Kami melihat kondisi ini perlu penanganan berbasis prioritas. Karena itu, kami mempresentasikan titik-titik rawan untuk bersama-sama menentukan wilayah mana yang perlu didahulukan penanganannya,” jelas Gufron.
Menurut dia, penentuan skala prioritas menjadi penting mengingat tingkat kerawanan yang berbeda di tiap wilayah. Titik-titik yang telah diidentifikasi diharapkan dapat menjadi model penanganan yang kemudian direplikasi di daerah lain di Situbondo.
Lebih lanjut, Ghufron menambahkan, kajian tersebut merupakan bagian dari program yang didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Program ini menargetkan tiga output utama, yakni penyusunan policy brief sebagai dasar kebijakan mitigasi, pembangunan infrastruktur pencegahan banjir bandang, serta penyusunan regulasi berupa peraturan bupati.
“Selain kajian kebijakan, kami juga akan mengembangkan fasilitas-fasilitas untuk pencegahan banjir. Kemudian regulasi akan disiapkan agar ada keterlibatan terstruktur dari pemerintah maupun masyarakat dalam mitigasi bencana,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo, menyambut positif inisiatif tersebut. Ia menyebut kajian akademik yang disampaikan menjadi salah satu rujukan penting untuk merasionalisasi program penanganan banjir di daerahnya.
"Ini penelitian yang kami tunggu-tunggu untuk membantu merasionalisasi program-program penyelesaian dan mitigasi banjir di Kabupaten Situbondo,” ungkapnya.
Bupati yang akrab disapa Mas Rio itu menegaskan, penanganan banjir tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah daerah. Keterlibatan seluruh elemen masyarakat dinilai penting agar upaya mitigasi dapat berjalan berkelanjutan.
“Harapan kami, ini menjadi gerakan bersama. Mulai dari pemerintah daerah, ulama, kiai, santri, hingga masyarakat luas, semuanya terlibat dalam upaya mencegah dan meminimalkan banjir ke depan,” tuturnya.
Ghufron berharap sinergi antara akademisi, pemerintah dan masyarakat dapat mempercepat penanganan persoalan banjir di Situbondo. Ia optimistis, langkah bertahap berbasis kajian ilmiah dapat mengurangi risiko bencana yang selama ini berulang di wilayah tersebut. (*)
View

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments