Kadisdikbud Kota Probolinggo Deteksi Hambatan Tumbuh Kembang Anak Sejak Dini

Jawapes, probolinggo - Upaya menjaga kualitas tumbuh kembang anak sejak usia dini terus diperkuat oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Probolinggo. Melalui langkah terencana, Kadisdikbud Probolinggo secara langsung mengidentifikasi berbagai hambatan yang berpotensi mengganggu perkembangan fisik, mental, maupun emosional anak.

Kegiatan ini menjadi salah satu program prioritas Disdikbud di tahun 2026 dengan mengusung tema penguatan deteksi inklusif sejak dini. Langkah ini penting untuk memastikan setiap anak mendapatkan perhatian serta penanganan yang tepat sebelum memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. Hal tersebut mencakup penelusuran faktor lingkungan, akses layanan kesehatan dasar, hingga dukungan pola asuh di tingkat keluarga.

Dalam pelaksanaan program ini, sebanyak 61 murid dari tingkat PAUD hingga TK di wilayah Kota Probolinggo mengikuti pemeriksaan secara serentak. Pelaksanaan Tes Psikologi Peserta Didik Penyandang Disabilitas (PDPD) tersebut dipusatkan di TK ABA 5, Jalan Mastrip, Kamis (17/9/2026) pagi.

Melalui proses evaluasi menyeluruh, pihak terkait berupaya mendapatkan gambaran yang utuh mengenai bakat, daya tangkap, hingga hambatan belajar yang dialami peserta didik. Data yang diperoleh kelak menjadi acuan penting bagi lingkungan sekolah maupun keluarga.

Hasil akhir dari pemeriksaan tersebut berfungsi sebagai pedoman utama bagi para pendidik dan orang tua. Dengan begitu, metode pengajaran serta pola pendampingan yang diberikan dapat disesuaikan secara presisi dengan kebutuhan tiap anak.

Pendekatan yang diterapkan selama evaluasi berlangsung sangat ramah anak dan mendukung suasana belajar yang nyaman. Selain mengikuti tes kemampuan dasar, orang tua siswa juga dilibatkan langsung dalam sesi wawancara mendalam atau anamnesis.

Tim pemeriksa memanfaatkan beragam aktivitas edukatif interaktif, salah satunya melalui permainan menyusun balok dan pengenalan warna. Metode ini dirancang agar anak-anak tetap merasa senang tanpa merasa sedang diuji.

Melalui interaksi permainan tersebut, tim ahli dapat mengamati langsung perkembangan motorik halus, motorik kasar, kemampuan berkomunikasi, hingga tingkat kemandirian para peserta didik secara objektif.

Keberhasilan program ini didukung oleh keterlibatan lintas sektor yang solid. Disdikbud menggandeng psikolog profesional, tenaga medis, konselor, Unit Layanan Disabilitas (ULD), penilik PAUD, serta Guru Pendamping Khusus (GPK).

Kolaborasi multidisiplin ini sengaja dibentuk agar hasil penilaian yang diperoleh benar-benar utuh dan mendalam. Pemetaan tidak hanya berdasar pada pengamatan visual di kelas, melainkan juga mempertimbangkan aspek klinis dan akademis.

Seluruh rangkaian pemeriksaan psikologi ini disediakan secara gratis oleh pemerintah daerah. Pihak sekolah maupun wali murid tidak dibebani biaya apa pun selama proses identifikasi berlangsung.

Program deteksi dini ini dipastikan tidak berhenti pada jenjang PAUD dan TK saja. Disdikbud Kota Probolinggo telah menyusun agenda berkelanjutan untuk menjangkau peserta didik hingga tingkat SD dan SMP.

Kepala Disdikbud Kota Probolinggo, Setyorini Sayekti S.K.M, M.Si. menekankan bahwa asesmen ini murni bertujuan untuk pemetaan tumbuh kembang. Pemerintah ingin memastikan tidak ada pelabelan negatif terhadap anak-anak. 

"Tujuan utama kami bukan melabeli anak, melainkan memahami secara utuh potensi, hambatan, dan kebutuhan belajar mereka," ujar Setiorini. 

Setyorini menjelaskan bahwa pemahaman menyeluruh terhadap profil siswa sangat penting. Hal ini bertujuan agar sekolah terhindar dari penerapan metode pembelajaran yang seragam tanpa memperhitungkan keunikan masing-masing anak. 

"Dari hasil asesmen ini, kami bisa mengantongi data pemetaan yang akurat, pihak sekolah diharapkan mampu merancang kurikulum dan materi pembelajaran yang lebih fleksibel serta adaptif sesuai daya serap siswa."Tegasnya. 

Sementara itu, Psikolog dari Institut Ahmad Dahlan Kota Probolinggo, Aries Dirgayunita Sukari, menambahkan bahwa kondisi disabilitas pada anak kerap kali tidak terlihat secara fisik. Oleh sebab itu, intervensi medis dan psikologis sangat penting. 

Psikolog Ahmad Dahlan Aries Dirga Yunita Sukasari (Kiri). Kadisdikbud kota Probolinggo Setiorini Sayekti (kanan).

"Kondisi seperti keterlambatan bicara (speech delay), autisme, maupun gangguan belajar spesifik membutuhkan intervensi yang tepat sejak dini agar penanganannya tidak terlambat." Jelasnya secara singkat. Jum'at (17/9/26) Pagi. 

Lanjut Aries menyatakan bahwa di lingkungan sekolah, asesmen menjadi rujukan penting bagi guru dan orang tua dalam memahami kebutuhan anak. Guru tidak memiliki kewenangan untuk menentukan diagnosis medis maupun psikologis. 

Dukungan juga datang dari Guru Pendamping Khusus TK Darussalam, Diastuti Vidya Pancawati bersyukur adanya program pemeriksaan gratis tersebut, 

"Fasilitas asesmen dari dinas ini sangat membantu pihak sekolah dan wali murid dalam memetakan kondisi anak sejak awal,"kata Diastuti. 

menurut Dias program ini sangat membantu sekolah dan para orang tua dalam menentukan arah pendampingan anak sejak awal (Dini), karena GPK berperan sebagai jembatan antara keluarga dan para ahli.

"Peran guru GPK adalah sebagai jembatan yang menghubungkan wali murid dengan para praktisi profesional yang berkompeten di bidangnya," jelasnya.(Id/Adv).


Baca Juga

View

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama

Rizal Diansyah, ST

Pimpred Media Jawapes. WA: 0818306669

Countact Pengaduan