![]() |
| Hujan abu Vulkani meluas di Tanggamus, sekolah belajar Daring |
Jawapes Tanggamus — Hujan abu vulkanik dampak aktivitas Gunung Anak Krakatau meluas di Kabupaten Tanggamus. Hingga Minggu (6/9/2026) sore, 20 kecamatan dilaporkan terdampak.
Berdasarkan laporan situasi BPBD Tanggamus hingga pukul 16.30 WIB, hujan abu yang mulai terjadi sejak Sabtu (5/9/2026) sekitar pukul 06.00 WIB tersebut masih berlangsung. Kondisi ini berdampak terhadap aktivitas masyarakat, jarak pandang, hingga meningkatkan potensi gangguan saluran pernapasan.
Wilayah yang terdampak meliputi Pematang Sawa, Cukuh Balak, Semaka, Kota Agung, Kotaagung Timur, Kelumbayan Barat, Bandar Negeri Semuong, Kotaagung Barat, Wonosobo, Kelumbayan, Limau, Ulu Belu, Gisting, Pulau Panggung, Bulok, Gunung Alip, Sumberejo, Air Naningan, Talang Padang dan Pugung.
Sekolah Terdampak, KBM Dialihkan ke Daring
Sebagai langkah perlindungan terhadap peserta didik, guru dan tenaga kependidikan, Pemerintah Kabupaten Tanggamus mengambil kebijakan mengalihkan kegiatan belajar mengajar dari rumah.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Nomor 4218/21/2026 tentang Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di Rumah Dampak Abu Vulkanik (Erupsi) Gunung Anak Krakatau.
Surat yang ditetapkan di Kota Agung pada 6 September 2026 tersebut diterbitkan atas nama Bupati Tanggamus Drs. H. Moh. Saleh Asnawi, M.A., M.H., melalui Sekretaris Daerah Tanggamus, Suaidi.
Dalam surat itu, satuan pendidikan di wilayah terdampak diminta melaksanakan pembelajaran secara daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menggunakan platform yang tersedia.
Kebijakan ini berlaku selama dua hari, Senin dan Selasa, 7–8 September 2026.
Kepala satuan pendidikan diminta memastikan proses pembelajaran tetap berjalan dengan menyesuaikan kondisi dan kemampuan sekolah maupun peserta didik.
Sementara itu, pendidik dan tenaga kependidikan tetap menjalankan tugas kedinasan sesuai pengaturan kepala satuan pendidikan, dengan tetap mengutamakan keselamatan dan kesehatan.
Pelaksanaan pembelajaran setelah 8 September akan dievaluasi berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan serta arahan instansi berwenang.
BPBD dan Dinkes Bergerak
Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Tanggamus terus melakukan pemantauan melalui Pusdalops PB serta memperkuat koordinasi bersama TNI, Polri dan organisasi perangkat daerah terkait.
Dinas Kesehatan juga telah mendirikan posko kesehatan, membagikan masker kepada masyarakat serta menyiapkan obat-obatan di wilayah terdampak.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Tanggamus, Hendarman Wahid, mengimbau masyarakat tidak panik namun tetap meningkatkan kewaspadaan.
«“Masyarakat kami imbau tetap waspada dan mempercayai informasi yang berasal dari sumber resmi, seperti BPBD Kabupaten Tanggamus, BMKG dan Pemerintah Daerah Kabupaten Tanggamus,” kata Hendarman.»
Masker dan Obat Menjadi Kebutuhan Mendesak
BPBD Tanggamus mencatat masker dan obat-obatan menjadi kebutuhan penting dalam penanganan dampak abu vulkanik.
Penanganan dilakukan secara lintas sektor dengan melibatkan BPBD, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Perhubungan, Basarnas Pos SAR Tanggamus, RAPI serta unsur TNI dan Polri.
Masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar rumah, menggunakan masker ketika harus berada di luar ruangan serta terus mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui sumber informasi resmi.
Sekolah juga diminta memantau kondisi peserta didik dan lingkungan sekolah. Sebelum pembelajaran kembali normal, ruang kelas dan lingkungan sekolah harus dibersihkan dari debu vulkanik untuk memastikan lingkungan belajar tetap aman dan sehat. (Ady)
View

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments