Dinkes Kota Probolinggo Klarifikasi Perbedaan Hasil CKG di Semipro Hanya Screening Awal Bukan Diagnosa Sesungguhnya

Sekertaris dinas kesehatan (kiri) dr Lusi, kepala puskesmas (kanan) drg Endah

Jawapes  Probolinggo – Dinas Kesehatan Kota Probolinggo memberikan klarifikasi terkait perbedaan hasil pemeriksaan gula darah dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Perbedaan ini sempat menjadi sorotan masyarakat usai pelaksanaan layanan kesehatan tersebut pada ajang Semipro. Kamis (16/7/2026) siang.

Sorotan muncul setelah seorang warga bernama Yulistiyawati (40) mengaku memperoleh hasil pemeriksaan gula darah acak sekitar 402 mg/dL saat mengikuti skrining di stan CKG. Namun, sehari kemudian, hasil pemeriksaan ulang di Klinik Polres dan laboratorium rumah sakit menunjukkan angka normal, yakni masing-masing 106 mg/dL dan 103 mg/dL.

Perbedaan hasil yang cukup besar tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai prosedur pemeriksaan, akurasi alat kesehatan, hingga mekanisme pengendalian mutu dalam pelaksanaan skrining di lapangan.

Menanggapi persoalan ini, Kepala Puskesmas, drg. Endah, menjelaskan bahwa pemeriksaan dalam Program CKG merupakan skrining awal, bukan pemeriksaan diagnostik yang digunakan untuk menegakkan vonis suatu penyakit.

"Program CKG adalah skrining untuk mendeteksi faktor risiko. Apabila hasil menunjukkan angka yang tinggi atau tidak normal, peserta akan diarahkan menjalani pemeriksaan lanjutan di fasilitas kesehatan agar mendapatkan hasil diagnostik yang lebih akurat," ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa alat beserta strip pemeriksaan yang digunakan merupakan logistik baru yang dibuka langsung dari kemasan resminya. Menurutnya, hasil pemeriksaan gula darah acak dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti waktu makan terakhir, aktivitas fisik, tingkat stres, hingga kondisi kesehatan seseorang saat pemeriksaan dilakukan.

Klarifikasi senada juga disampaikan oleh Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Probolinggo, Lusi Tri Wahyuli. Menurutnya, hasil skrining tidak dapat dijadikan dasar mutlak untuk menyimpulkan seseorang menderita penyakit tertentu tanpa adanya pemeriksaan lanjutan yang sesuai dengan standar medis.

Ia menegaskan, Dinas Kesehatan Kota Probolinggo terus melakukan pembinaan kepada seluruh fasilitas pelayanan kesehatan agar pelaksanaan Program CKG berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP). Hal ini termasuk memastikan alat kesehatan yang digunakan layak pakai dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Lusi berharap masyarakat tidak langsung panik atau menarik kesimpulan sepihak dari hasil skrining awal. Apabila ditemukan hasil di luar batas normal, peserta diimbau untuk segera melakukan pemeriksaan lanjutan di fasilitas kesehatan terdekat agar memperoleh diagnosis yang tepat.

Meskipun demikian, perbedaan hasil pemeriksaan yang dialami warga tetap menjadi catatan evaluasi. Yulistiyawati (40) warga Kademangan, salah satu pihak yang menyoroti kasus ini, menyampaikan bahwa evaluasi terhadap prosedur pelaksanaan di lapangan dinilai sangat penting demi menjaga kualitas pelayanan dan mempertahankan kepercayaan masyarakat.

"Kalau bisa utamakan penanganan terlebih dahulu terhadap pengunjung yang datang ingin mengetahui kesehatannya. Fokus utama harus pada tugas profesi sebagai tenaga kesehatan, bukan sekedar memeriahkan acara. Jadi utamakan pelayanan dari pada sekedar absensi kehadiran di lokasi, agar peristiwa ini tidak terulang kembali," tegas Yuli.

Lebih lanjut, ia mengingatkan agar pemerintah daerah lebih berhati-hati dalam menyelenggarakan program kesehatan, meskipun bersifat gratis.

"Pemerintah Kota Probolinggo boleh melakukan kegiatan gratis, namun jika itu berbicara soal kesehatan, jangan coba-coba. Diagnosis berupa angka tinggi yang tertulis dalam berkas hasil pemeriksaan bisa sangat mengganggu psikis warga. Tidak ada riwayat sakit, tapi tiba-tiba hasilnya seolah divonis sakit berat," tambahnya.(Id)

Baca Juga

View

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama

Rizal Diansyah, ST

Pimpred Media Jawapes. WA: 0818306669

Countact Pengaduan