Berdasarkan pantauan di lokasi sejak pukul 11.30 WIB hingga 13.45 WIB, kantor yang berada di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan tersebut tampak sepi melompong. Pintu utama sama sekali tidak dapat diakses dari luar, sementara aktivitas kedinasan para pegawai nyaris tidak terlihat di sekitar kantor.
Kondisi tidak biasa di kantor pelayanan publik ini ditemukan dalam kondisi janggal. Pintu utama terlihat diganjal dari bagian dalam menggunakan gagang sapu. Sementara pada pintu samping, terpasang rantai besi yang dilengkapi gembok berlapis selang berwarna hijau. Situasi tersebut otomatis membuat masyarakat maupun pegawai dari instansi lain yang hendak berkoordinasi mengalami keterbatasan akses.
Kondisi di instansi yang membidangi urusan keagamaan dan sosial kemasyarakatan ini bahkan menarik perhatian serius dari kalangan pejabat pemerintah daerah tetangga, salah satunya dari lingkungan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP/MPP) Kabupaten Probolinggo.
Kelumpuhan aktivitas ini disinyalir terjadi akibat puluhan staf di lingkungan Kesra kompak melakukan aktivitas istirahat secara serentak (berjamaah).
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kantor ini idealnya diisi oleh kurang lebih 20 orang personel staf, baik yang berstatus ASN maupun non-ASN. Akan tetapi pada waktu mendesak tidak ada satu pun petugas yang bersiap di meja pelayanan atau resepsionis.
Kondisi tersebut sangat disayangkan mengingat ruang kerja Kesra pada umumnya selalu terbuka lebar pada jam operasional untuk memudahkan koordinasi serta pelayanan langsung kepada masyarakat.
Kepala Bagian (Kabag) Kesra Kota Probolinggo, Samsul Arif, yang baru seminggu menjabat juga tidak terlihat di lokasi. Pria yang sebelumnya menjabat sebagai Kabid Dispopar sekaligus dikenal sebagai ketua cabang olahraga (cabor) karate di wilayah kota tersebut, tidak tampak berada di ruang kerjanya maupun di area sekitar kantor.
Saat dilakukan penelusuran ke ruang Sekretaris Kesra yang lokasinya berada di bagian belakang, hanya ditemukan dua orang pegawai yang sedang bertugas di meja kerja mereka masing-masing, yakni seorang staf pria dan satu rekan kerja wanitanya.
Saat dikonfirmasi di lokasi, salah satu staf Bagian Kesra berinisial BK memberikan penjelasan bahwa penguncian pintu dilakukan demi alasan keamanan karena sebagian besar pegawai sedang menjalani jam istirahat keluar kantor.
"Pintu memang dikunci karena semua pegawai lainnya sedang istirahat, tapi di sini masih ada dua staf, saya dan teman, untuk menjaga dokumen dan aset negara," ujar BK, Senin (15/6/2026) siang.
BK menyatakan bahwa langkah tersebut murni untuk keamanan internal dan ia memastikan alur pelayanan akan kembali berjalan normal setelah seluruh pegawai selesai beristirahat.
Meskipun ada pembelaan dari pihak staf, penutupan total kantor pada jam kerja tetap dinilai mengabaikan prinsip transparansi tata kelola pemerintahan. Absennya pejabat yang baru saja direkrut melalui sistem manajemen talenta SIMATA BKN bersamaan dengan kosongnya ruangan dari puluhan aparatur negara tersebut dianggap memberikan contoh buruk bagi penegakan disiplin Aparatur Sipil Negara (ASN) di wilayah Probolinggo.
Kejadian ini pun langsung menyulut diskusi hangat mengenai pentingnya pengawasan melekat (waskat) terhadap manajemen pelayanan publik di tingkat dasar.
"Pemantauan dan evaluasi pelayanan publik harus tetap menjadi perhatian utama agar masyarakat tetap memperoleh hak layanan mereka secara optimal," tutur seorang pejabat daerah berinisial AA saat dimintai tanggapan mengenai kondisi tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, nomor telepon seluler milik Kabag Kesra Samsul Arif masih dalam keadaan tidak aktif dan pesan singkat yang dikirimkan belum mendapatkan respons. Secara terpisah, Wali Kota Probolinggo, dr. Aminuddin, juga belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden penguncian kantor pada jam operasional maupun regulasi yang mengatur teknis pelayanan di lingkungan Bagian Kesra.(Id)
View

Posting Komentar
Hi Please, Do not Spam in Comments