(Foto: ida y Jawapes Probolinggo)
Jawapes, PROBOLINGGO – Pemerintah Kota Probolinggo melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) mengambil langkah nyata dalam menekan angka putus sekolah. Secara serentak, dimulai dari tingkat dinas, camat, hingga jajaran RT/RW dikerahkan untuk menyisir 1.800 anak yang terdata tidak merasakan bangku pendidikan di seluruh wilayah kota.
Langkah strategis ini diawali dengan peluncuran Gerakan Sahabat ATS (Sinergi Aksi Holistik Berbasis Area Terpadu) yang dipusatkan di Kelurahan Jrebeng Lor, Senin (2/3/26) Siang.
Melalui Gerakan Sahabat ATS ini, Kelurahan Jrebeng Lor dipilih menjadi titik awal intervensi pendidikan bagi anak-anak yang selama ini luput dari bangku sekolah formal.
Program ini diluncurkan langsung oleh Wali Kota Probolinggo, dr. H. Aminuddin, Sp.OG., pada Senin (2/3/26) Siang.
Langkah strategis tersebut menjadi bagian dari ambisi besar pemerintah daerah dalam mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia (IPM) melalui pemerataan akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Berdasarkan hasil verifikasi faktual by name by address, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) setempat mencatat setidaknya ada 1.800 anak di Kota Probolinggo yang masuk dalam kategori Anak Tidak Sekolah (ATS).
Data ini mencakup mereka yang belum pernah sekolah hingga yang terhenti di tengah jalan.
Di Kelurahan Jrebeng Lor sendiri, tercatat sebanyak 66 anak yang membutuhkan penanganan segera.
Kondisinya beragam, mulai dari lulusan SMP yang tidak melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, hingga anak-anak yang hanya menempuh pendidikan diniyah tanpa memiliki ijazah umum.
Wali Kota Aminuddin menegaskan bahwa pengentasan ATS adalah kunci utama agar IPM Kota Probolinggo mampu menembus angka minimal 80. Ia mewanti-wanti jajarannya agar gerakan ini tidak berhenti pada seremonial peluncuran semata, melainkan berdampak nyata secara berkelanjutan.
"Masa depan mereka tidak boleh terhenti hanya karena kendala administratif atau ekonomi. Ini tanggung jawab kolektif, Semua jajaran harus bekerja terukur agar anak-anak ini kembali merasakan suasana belajar," tegas Amin dokter spesialis kandungan tersebut.
Kadisdikbud Kota Probolinggo, Siti Romlah, menjelaskan bahwa penanganan dilakukan melalui proses asesmen yang mendalam. Hal ini dikarenakan setiap anak memiliki latar belakang dan kesiapan mental yang berbeda-beda sebelum kembali ke sekolah.
Bagi anak yang masih masuk dalam kriteria usia sekolah dasar hingga menengah, pemerintah akan mengarahkan mereka ke satuan pendidikan formal. Namun, bagi mereka yang usianya sudah melampaui batas, solusi pendidikan akan difasilitasi melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
"Melalui PKBM, mereka bisa mengambil program Kejar Paket A, B, atau C. Intinya, tidak boleh ada diskriminasi usia dalam mendapatkan hak mengenyam pendidikan dan memiliki ijazah yang diakui negara," ungkap Siti Romlah.
Selain aspek akademis, Pemkot Probolinggo juga melibatkan tim psikolog dan unsur kelurahan. Keterlibatan tenaga ahli ini bertujuan untuk memetakan kesiapan psikis anak serta memberikan pendampingan sosial agar mereka tidak merasa rendah diri saat kembali bersekolah.
Sadar bahwa faktor ekonomi seringkali menjadi akar masalah, dalam peluncuran tersebut Pemkot juga menyalurkan bantuan paket sembako, Bantuan ini diberikan kepada sejumlah anak putus sekolah dan warga kurang mampu di wilayah Jrebeng Lor sebagai bentuk dukungan moril.
Bantuan logistik ini diharapkan dapat meringankan beban keluarga, sehingga orang tua bisa lebih fokus mendukung anak-anak mereka kembali ke meja belajar tanpa terbebani kebutuhan dapur yang mendesak.
Gerakan Sahabat ATS ini akan bergerak secara lintas sektoral dengan melibatkan Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, hingga Disperinaker.
Selain Jrebeng Lor, intervensi serupa akan dijadwalkan pada empat wilayah prioritas lainnya untuk memastikan target nol anak putus sekolah dapat tercapai. Adv (Id)
View





إرسال تعليق
Hi Please, Do not Spam in Comments