UMKM Naik kelas : Mengubah Paradigma Akuntansi UMKM dari Profit ke Keberlanjutan

Mahasiswi Program Doktor Ilmu Akutansi Universitas Pendidikan Ganesha, Lita Permata Sari 

Jawapes, SITUBONDO - Mahasiswi Program Doktor Ilmu Akutansi Universitas Pendidikan Ganesha, Lita Permata Sari memberikan tanggapan soal pergerakan pertumbuhan ekonomi di Indonesia dari sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), Jumat (3/7/2026) saat dikonfirmasi awak media.

Lita Permata Sari mengungkapkan, salah satu motor penggerak ekonomi Indonesia adalah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Sektor domestik ini berkontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Berdasarkan data terkini, jumlah pelaku UMKM di Indonesia terus menunjukkan tren pertumbuhan positif hingga menyentuh kisaran 59,5 juta (kadin.id). Secara agregat, menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap hampir 97 persen dari total tenaga kerja di tanah air. UMKM naik kelas ditandai oleh pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan dan terjaganya legitimasi sosial di masyarakat. 

Namun, narasi "Naik Kelas" yang selama ini digaungkan pemerintah sering kali terjebak pada indikator yang semu: seberapa besar omzet, seberapa luas pasar ekspor, atau seberapa banyak karyawan. Alat ukur bisnis yang digunakan masih sangat konvensional, di mana akuntansi hanya disempitkan maknanya sebagai beban administratif, seni mencatat debit-kredit untuk menghitung sisa uang di kotak penyimpanan, atau sekadar dokumen formalitas demi mencairkan kredit bank. 

"Di era baru ini keberlanjutan (sustainability) menjadi indikator utama dalam menilai daya saing perusahaan, UMKM tidak akan pernah benar-benar naik kelas jika indikator kesuksesannya masih sekadar mengejar laba bersih tanpa memedulikan dampak lingkungan dan sosial. Sudah saatnya mengubah paradigma yang tertanam di pelaku usaha maupun dikalangan masyarakat. Menaikkan kelas UMKM harus dimulai dengan merombak cara pandang akuntansi: dari yang semula berorientasi murni pada profit (keuntungan finansial) menuju akuntansi keberlanjutan berbasis Shared Value Creation (SVC)," terangnya.

Lebih lanjut, Lita menjelaskan, Shared Value Creation bukanlah konsep filantropi atau aksi sosial bagi-bagi sumbangan yang memotong pos keuntungan bisnis. Sebaliknya, ini adalah strategi melipatgandakan nilai ekonomi perusahaan dengan cara menyelesaikan problem sosial dan lingkungan di sekitarnya. Melalui kacamata akuntansi keberlanjutan, efisiensi energi, pengurangan limbah plastik dan pemberdayaan komunitas atau masyarakat lokal tidak lagi dicatat secara kaku sebagai "beban" yang mereduksi profit. Akuntansi modern justru membacanya sebagai investasi strategis yang memangkas biaya operasional jangka panjang dan meningkatkan nilai (value) usaha di mata masyarakat. Sangat terlihat dampak masifnya jika sebagian kecil saja dari jumlah 59,5 juta UMKM mulai mengadopsi pencatatan berbasis keberlanjutan. 

Ia mencontohkan dari sektor kuliner tidak lagi sekadar menghitung margin ayam goreng, tetapi secara akuntansi juga menghitung efisiensi pengelolaan minyak jelantah atau sisa makanan agar tidak mencemari lingkungan. Industri rumahan kriya tidak hanya mencatat harga jual produk, tetapi juga mengalkulasi nilai tambah dari pemanfaatan bahan daur ulang dan pelibatan masyarakat lokal sebagai mitra sejahtera. Menurutnya, ketika dampak lingkungan dan sosial mampu dikuantifikasi dan tersaji transparan dalam catatan akuntansi, UMKM otomatis bertransformasi menjadi magnet bagi generasi konsumen modern yang sangat peduli pada isu-isu etis. Lebih jauh lagi, mengubah paradigma akuntansi adalah poin terpenting UMKM untuk mengakses green financing atau pendanaan hijau yang kini gencar didorong oleh sektor perbankan. Lembaga keuangan kini kian memperketat kriteria ESG (Environmental, Social, and Governance). Tanpa tata kelola pencatatan yang mampu membuktikan bahwa bisnis atau usaha ramah lingkungan dan berdampak sosial, jutaan UMKM akan kehilangan peluang mendapatkan modal kerja dengan insentif bunga yang bersahabat. Pada akhirnya, angka pertumbuhan puluhan juta unit UMKM dan kontribusi 61 persen terhadap PDB tidak akan berarti banyak jika prosesnya meninggalkan jejak bumi yang rusak dan ketimpangan sosial.

"UMKM yang benar-benar "Naik Kelas" adalah yang menyadari bahwa keberadaan sebuah usaha dinilai dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkan untuk manusia dan bumi, meningkatkan kualitas tata kelola bisnis sehingga mampu bertahan dalam jangka panjang. Mengubah arah akuntansi dari sekadar mengejar profit menuju keberlanjutan adalah langkah krusial untuk memastikan fondasi ekonomi Indonesia tidak hanya tumbuh membesar, tetapi juga mengakar kuat," ujarnya.

Masih Lita Permata Sari Mahasiswa Program Doktor Ilmu Akutansi menambahkan, tolak ukur kinerja masa depan tidak lagi berfokus pada laba bersih (Net Income) tetapi pada nilai yang diciptakan (Value Created) lintas dimensi modal (Modal Manusia, Sosial, Alam, dan Finansial) untuk mengukur penciptaan nilai secara holistik.  Integrasi antara modal sosiokultural yang kuat dan kerangka akuntabilitas yang transparan akan menjadikan UMKM sebagai tulang punggung baru dalam pembangunan ekonomi dan sosial Indonesia yang inklusif. Secara sadar bahwa UMKM memang bukan sekadar bisnis, melainkan sebuah manifestasi ekonomi masa depan yang memiliki jiwa dan berdampak nyata bagi bangsa dan keberlanjutan baik masyarakat, sosial, dan alam. UMKM hadir untuk bersama membangun negeri yang sejahtera, makmur, dan lestari. (Fin/Lita)

Baca Juga

View

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama

Rizal Diansyah, ST

Pimpred Media Jawapes. WA: 0818306669

Countact Pengaduan