![]() |
Kondisi disiang hari: lokasi acara di stadion bayuangga yang terletak dijalan kaca piring kota Probolinggo. |
Jawapes, Probolinggo – Pelaksanaan event Semipro (Seminggu di Probolinggo) yang telah berlangsung lima hari mendapat sorotan tajam dari kalangan legislatif. Hal ini menyusul adanya laporan mengenai banyaknya pedagang dari luar daerah yang mendominasi stand pameran dan pasar rakyat dalam acara tahunan tersebut. (8/7/2026) Siang.
Kondisi tersebut memicu pertanyaan dari masyarakat mengenai komitmen panitia dalam memberdayakan potensi lokal.
Berdasarkan pantauan di lapangan, para pedagang yang memadati area justru lebih banyak yang berasal dari wilayah kabupaten tetangga, seperti Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, hingga beberapa kota lain bahkan dari Bandung Jawa Barat.

Banyaknya laporan masuk, Wakil Ketua I DPRD Kota Probolinggo angkat bicara dengan nada heran sekaligus kecewa. Ia mempertanyakan kebijakan panitia penyelenggara atau Event Organizer (EO) yang meloloskan begitu banyak pedagang dari luar daerah.
"Saya justru bertanya balik, kenapa kok harus dari luar kota, Padahal masih banyak sekali pelaku UMKM di Kota Probolinggo sendiri yang saat ini sangat membutuhkan ruang dan perlu diberdayakan," tegas wakil dewan kepada jawapes.
Ia pun meminta pihak penyelenggara tidak lepas tangan dan segera memberikan klarifikasi terbuka mengenai pemetaan pedagang. Menurutnya, pihak EO harus menjelaskan alasannya mengapa kuota untuk warga lokal justru terkesan tersisih oleh pelaku usaha luar daerah.
Secara prinsip, legislatif tidak melarang adanya kolaborasi antar-daerah demi meramaikan acara. Namun, mengingat status event ini diselenggarakan di jantung Kota Probolinggo dan didanai atau didukung oleh fasilitas daerah, maka asas prioritas harus tetap ditegakkan.
Harapan besar dari pelaksanaan Semipro ini sebenarnya adalah memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat setempat. Oleh sebab itu, warga Kota Probolinggo yang memiliki usaha mikro dan kecil semestinya mendapatkan karpet merah di rumahnya sendiri.
Wakil Ketua I DPRD menekankan bahwa aspek kesiapan dan wilayah asal pelaku UMKM harus menjadi indikator utama dalam penyusunan daftar peserta. Jika warga kota siap dan produknya memadai, tidak ada alasan untuk mendahulukan pedagang dari wilayah lain.
Selain itu, sebagai wakil ketua DPRD Mujib juga menyadari adanya potensi kendala di lapangan, seperti masalah modal atau biaya kontribusi stand yang mungkin memberatkan pelaku usaha kecil. Jika ketidakmampuan finansial menjadi pemicunya, di sinilah peran penting pemerintah daerah diuji.
Menanggapi kendala biaya tersebut, dia menyarankan Pemerintah Kota Probolinggo untuk hadir memberikan solusi, seperti kebijakan subsidi atau aturan khusus, agar UMKM lokal dapat berpartisipasi maksimal tanpa terbebani biaya kontribusi yang tinggi.
"Pemerintah harus mampu memberikan solusi terbaik, misalnya melalui subsidi stand atau regulasi khusus, agar pelaku UMKM lokal tidak kalah bersaing secara modal." Tegas Mujib
Untuk menindaklanjuti keresahan warga ini, sebagai wakil rakyat ia menegaskan tidak akan tinggal diam dan akan segera melakukan pengawasan lebih lanjut. Langkah awal yang akan diambil adalah meminta transparansi data konkret mengenai profil seluruh pedagang yang terlibat.
"Saya perlu data kondisi aslinya di lapangan, siapa saja sebenarnya yang berjualan di sana. Sementara ini, apa yang saya sampaikan adalah respon cepat berdasarkan laporan langsung dari masyarakat dan beberapa pelaku UMKM kota yang merasa kecewa," pungkas Wakil Ketua I DPRD Kota Probolinggo dengan singkat. Rabu (8/7/2026) Siang.

Fairuz Abadi asal Surabaya demi sebuah tanggung jawab dia rela berjualan di berbagai daerah. Dan ia baru saja aktif kembali untuk berdagang semenjak anak tunggalnya meninggal dunia di usia 7tahun akibat kejang.
Sementara Fakta di lapangan menunjukkan keterlibatan pedagang luar daerah memang cukup tinggi. Deby Hermansyah, pedagang mainan anak-anak, asal Bandung, Jawa Barat, mengaku bisa berjualan di acara tersebut setelah mendapatkan informasi melalui grup komunitasnya. Ia bersama rekan sesama pedagang dari Jawa Barat pun turut mendapatkan fasilitas stan di lokasi acara.
"Kami dari Jawa Barat. Kalau informasi acara sehingga bisa berjualan di sini saya diinfokan oleh teman dan itupun melalui grup komunitas," ungkap Deby saat ditemui di lokasi. Selasa (7/8/2026) malam.
Terkait biaya sewa, Beby menjelaskan bahwa tarif stan bervariasi tergantung lokasi. Untuk stan di luar tenda, harga sewa dipatok di bawah Rp2 juta, sedangkan untuk stan di dalam tenda kerucut, biaya sewa mencapai Rp2 juta ke atas.
Bagi pelaku usaha, tarif tersebut menjadi tantangan tersendiri. Terkadang omset penjualan belum tentu menutupi biaya sewa, sehingga risiko kerugian tetap menghantui para pedagang.
"Kadang ya rugi, kadang untung tapi tidak banyak, tapi mau bagaimana lagi sudah risiko kita sebagai penjual pameran. Kalau bicara soal sewa stan, memang sudah menjadi dasar kesepakatan. Kalau di luar area sekitar Rp2 juta ke bawah, kalau yang di dalam pakai tenda kerucut info dari teman-teman Rp2 juta ke atas," tuturnya.
Disisi lain, Fairuz abadi (29). Salah satu Penjual bibit parfum asal Surabaya bersama ketiga rekannya baru membuka stand Setelah berjalan 5hari.
"Kami Baru datang, karna masih menghabiskan acara semipro diluar kota Kediri"tuturnya. (Id).
View

إرسال تعليق
Hi Please, Do not Spam in Comments