Menakar Hujan dan Air Pasang, Mengapa Banjir Selalu Soal Kebijakan


             Suhartono, S.H, C.A.L.

Jawapes Surabaya - Ketika hujan deras mengguyur Kota Pahlawan selama berhari-hari dan menyisakan genangan di beberapa sudut kota, telunjuk kita sering kali dengan cepat mengarah kepada kebijakan sang Walikota. Namun, jika kita mau melihat lebih jernih, menyalahkan tata kelola kota atas fenomena alam yang ekstrem adalah langkah yang kurang adil. Banjir yang terjadi belakangan ini bukanlah buah dari kegagalan birokrasi, melainkan akibat dari kombinasi dua hukum alam yang datang bersamaan: cuaca ekstrem yang tak menentu dan fenomena air laut pasang (rob).

​Secara ilmiah, wilayah pesisir seperti Surabaya memiliki tantangan geografis yang sangat unik. Ketika atmosfer sedang tidak menentu—dipicu oleh anomali suhu alamiah atau pergerakan angin konvergensi—awan-awan hujan raksasa berkumpul tepat di atas kota, menumpahkan volume air yang jauh di atas kapasitas normal dalam waktu singkat.


​Sialnya, tantangan tidak berhenti di situ. Di saat yang bersamaan, alam sering kali memicu fase pasang tertinggi air laut. Akibat fenomena ini, posisi permukaan laut menjadi lebih tinggi atau sejajar dengan saluran drainase kota. Akibat hukum fisika yang sederhana, air hujan yang seharusnya mengalir tuntas menuju laut justru tertahan di daratan karena "dihadang" oleh air laut yang sedang naik. Sehebat apa pun teknologi pompa yang dikerahkan dan seluas apa pun waduk boezem yang telah dibangun pemerintah kota, aliran air akan melambat secara drastis ketika pintu pembuangan akhir terkunci oleh pasang surutnya samudera.

​Kebijakan Walikota dan jajarannya sejatinya berada pada ranah mitigasi—menyiapkan infrastruktur, membersihkan gorong-gorong, dan memastikan rumah pompa siaga penuh. Kebijakan manusia bisa merekayasa jalur air, namun kebijakan tidak akan pernah bisa memesan kapan hujan harus berhenti atau mendikte kapan air laut boleh pasang.

​Menghadapi ketidakpastian iklim global saat ini, banjir di kota pesisir adalah potret dari kuatnya hukum alam. Ini bukan lagi ruang untuk saling menyalahkan secara politis, melainkan momentum bagi pemerintah kota dan warganya untuk saling bergotong-royong, meningkatkan kesiap siagaan, dan menjaga lingkungan agar Kota Pahlawan tetap tangguh berdiri di tengah dinamika alam yang kian dinamis.


Penulis :  Ketua 1 FORKOM LPMK kota Surabaya Suhartono, S.H, C.A.L.

Kolomnis dan Pemerhati Lingkungan

(( CSan))

Baca Juga

View

Post a Comment

Hi Please, Do not Spam in Comments

Lebih baru Lebih lama

Rizal Diansyah, ST

Pimpred Media Jawapes. WA: 0818306669

Countact Pengaduan