Jawapes Probolinggo – Umat Hindu di Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, melaksanakan ritual suci Hari Raya Pagerwesi di Pura Giri Mukthi pada Rabu (8/4/26) Pagi. Perayaan ini merupakan kelanjutan dari rangkaian hari besar setelah hari raya Saraswati.
Sejak pagi, warga Dusun II Desa Sapikerep yang mengenakan pakaian adat lengkap telah memadati area pura. Ritual ini digelar secara rutin setiap 210 hari sekali berdasarkan penanggalan Hindu, tepatnya pada hari Budha Kliwon Shinta.
Secara etimologi, Pagerwesi bukan sekedar nama, namun berasal dari kata Pager yang berarti pelindung dan Wesi yang berarti besi, hari raya ini menjadi simbol benteng perlindungan diri yang kokoh secara spiritual bagi setiap individu.
Ketua PHDI Desa Sapikerep, Rujiyanto S.Sos menjelaskan bahwa esensi utama dari ritual ini adalah memperkokoh iman (Sradha) serta ilmu pengetahuan (Widya). Hal tersebut dianggap penting sebagai kendali diri manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Rujiyanto menegaskan bahwa setiap individu memerlukan "pagar" agar tidak mudah terjerumus dalam tindakan negatif. Pengaruh buruk dari luar maupun dalam diri harus dibentengi dengan kekuatan mental yang stabil.
"Hari Pagerwesi menjadi momen penting untuk melindungi diri dari pengaruh negatif, terutama pikiran dan nafsu yang tidak terkendali," ujar Rujiyanto melalui pesan singkat.
Ia menambahkan, perayaan ini merupakan langkah warga untuk menjaga keseimbangan antara pengetahuan dan kualitas spiritual. Tanpa perlindungan mental, ilmu pengetahuan dikhawatirkan dapat kehilangan arah dan esensinya.
Dalam siklusnya, Pagerwesi jatuh tak lama setelah Saraswati yang dimaknai sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan. Pagerwesi berfungsi sebagai fase untuk mengunci serta memperkuat ilmu tersebut agar tetap terjaga di dalam diri.
Tujuan utama dari ritual ini adalah memohon kekuatan lahir dan batin kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Tuhan sebagai sumber ilmu diharapkan memberikan perlindungan agar umat tetap berjalan di jalur kebenaran (Dharma).
Prosesi di Desa Sapikerep dijalankan sesuai dengan tradisi turun-temurun. Umat mengawali persembahyangan di rumah masing-masing sebelum akhirnya berkumpul di pura untuk melaksanakan doa bersama secara khidmat.
Warga juga membawa Banten atau sesajen sebagai bentuk rasa syukur dan sarana memohon keselamatan. Setiap detail sesajen tersebut memiliki filosofi komunikasi spiritual antara manusia dengan Sang Pencipta.
Tokoh agama setempat, Alimikdin menekankan bahwa momen ini juga menjadi ajang introspeksi diri. Umat diajak merenungkan sejauh mana ajaran agama telah diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat selama ini.
"Pagerwesi bukan sekedar seremoni, melainkan momentum introspeksi. Umat harus merenungkan sejauh mana ajaran agama benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat," tegas Alimikdin. (PJ/Id)
View

إرسال تعليق
Hi Please, Do not Spam in Comments