Surabaya Butuh Pemimpin Muda Yang memgerti Nilai

Jawapes Surabaya - Memperingati perayaan Idul Adha bisa juga dilakukan dengan cara menggelar diskusi setelah melakukan pengorbanan hewan qurban.

Sebagaimana yang dilakukan oleh komunitas yang biasa berkumpul di Rumah Kemaslahatan Indonesia ( RKI ), Darmo Kali 61 Surabaya, Sabtu, 1 Agustus 2020, Pukul 19.00 menggelar acara diskusi menyiapkan pemimpin Surabaya.
Dibuka oleh Saiful, alumni ITS dan aktivis senior Surabaya, acara ini dilakukan sebagai ritual tahunan qurban dan sekaligus mendiskusikan persoalan persoalan yang terjadi di masyarakat. Wawan sebagai pemimpin diskusi mengantarkan acara diskusi dengan pernyataan pemimpin Surabaya hari ini ada dua kubuh, ada kelompok yang mewakili kelompok tua dan kelompok yang mewakili kelompok anak muda. Terlepas dari siapapun yang memimpin Surabaya kedepan, tapi menempatkan pilihan merupakan sesuatu yang harus dipikirkan.

Taufik Hidayat, Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur mengatakan dalam paparannya bahwa kalau bicara pembangunan, Surabaya sudah selesai, sudah cukup banyak dan cukup baik, tapi dalam perspektif kebudayaan masih ada nilai nilai yang hilang ditengah pesatnya pembangunan.
Taufik melanjutkan penjelasannya masih banyak kita rasakan Pemerintah Kota Surabaya masih lemah dalam mengapresiasi nilai nilai penghormatan kepada para pejuang beserta peninggalan mereka dan keluarganya.

" Saya masih melihat lemahnya Pemkot Surabaya mengapresiasi para pejuang, peninggalannya dan para keluarga nya, coba kita lihat betapa menyedihkannya, makam WR Supratman berdekatan dengan tempat sampah, ini menunjukkan betapa lemahnya kita Mengapresiasi dan menghormati pengorbanan mereka ? " Tegas Taufik.

Tri Harjono yang akrab dipanggil Jojon dalam kata penutupannya mengatakan ada 4 hal yang harus dipahami yang menjadikan satu kelompok masyarakat yang berbeda dengan kelompok masyarakat yang lain, yaitu pertama, kemampuan mengakses sumber daya ilmu pengetahuan, kedua sumber daya tehnologi, ketiga sumber daya kebijakan dan yang keempat sumber daya pendanaan. Dari penguasaan itu seberapa mampu kita mendorong kemampuan kita untuk bisa mempengaruhi.
Dalam diskusi ini terlihat kesepahaman bahwa pemimpin Surabaya kedepan, diharapkan mereka yang bisa menghargai para pejuang dan peninggalan serta para keluarga nya, mengerti persoalan anak anak muda, menghargai aktivitas dan bisa memfasilitasi proses mereka tumbuh mandiri.

Diskusi ditutup dengan doa yang dibacakan oleh Gus Amak dari Sodosermo Surabaya yang mendoakan keselamatan bangsa dan agar Surabaya mendapatkan pemimpin yang baik.

Hadir dalam diskusi malam itu beberapa aktivis senior Surabaya mulai tahun 80 an sampai dengan aktivis 90 an serta anak anak muda dan para mahasiswa. ( CSan/IA)

join

join


kali berita ini telah dibaca

Posting Komentar

0 Komentar

wa